Kamis, 09 April 2015

Tafsiran Ayat Tenang Media Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Al-Quran adalah wahyu Allah dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam.[1] Al-Qur’an adalah undang-undang syari’at dan sumber hukum, yang harus ditaati dan diamalkan oleh setiap muslim. Di dalamnya termuat masalah-masalah halal haram, serta amar ma’ruf nahi munkar. Al-Qur’an juga  sebagai sumber inspirasi sastra  dan akhlak. Di situ, setiap muslim diperintahkan untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip al-Qur’an. Dengan demikian, mereka akan memperoleh kebahagiaan dan petunjuk yang akan mengantarkan mereka di dalam memperoleh keberuntungan di hadapanNya kelak di akhirat.[2]

Kehidupan ummat manusia tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi  umat  manusia Islam. Sebagai seorang calon pendidik, tentunya  diharapkan menjadi seorang pendidik yang profesional. Dalam Al–Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi guru atau pendidik yang baik dan profeional. Dengan demikian akan dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran islam. Selain mendapatkan rizqi, juga akan mendapatkan berkah dan ridho dari Allah swt. Kalau berbicara mengenai pendidikan tentu tidak terlepas dari yang namanya media[3] ada beberapa ayat didalam al-qur’an yang membahas mengenai media pendidikan. Pada makalah ini akan dibahas lebih terperinci mengenai ayat-ayat tentang media pendidikan menurut al-Qur’an.
B.   Rumusan masalah
Berdasarkan inti latar belakang diatas tentang bagaimana penjelasan bagaimana media pendidikin maka muncullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.      Apa pengertian media pendidikan?
2.      Bagaimana teks dan terjemah ayat media pendidikan?
3.      Bagaimana syarah mufradat ayat-ayat media pendidikan?
4.      Bagaiman kandungan dan asbab al-nuzul ayat-ayat media pendidikan?




BAB II
PEMBAHASAN
A.          Pengertian Media Pendidikan 
Media pendidikan mempunyai peran yang sangat penting di dalam kegiatan pengajaran. Kehadiran media di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam rangka efektifitas dan defisiensi pengajaran sangat di perlukan. Dalam dunia pengajaran, pada umumnya atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi, yakni guru sedangkan sebagai penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang dikomunikasikan sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh siswa, meliputi kemampuan kognitif bersifat intelektual, kemampuan psikomotorik yang bersifat jasmaniah atau keterampilan fisik. Kemampuan itu dikomunikasikan melalui berbagai saluran, yaitu saluran penglihatan (visual), saluran pendengaran (audio), saluran penglihatan dan pendengaran (audio visual), saluran perasaan (sense), dan saluran yang berwujud penampilan (performance).
 Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu medium yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Dalam aktivitas pembelajaran, media adalah sesuatu yang merupakan bagian di dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik seperti yang diungkapkan Gearlach dan Ely dalam Fathurrohman dan Sutikno bahwa “media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”.
 Dari definisi-definisi para ahli kebahasaan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran dan perasaan dalam interaksi antara pengajar dan pembelajar. Media pembelajaran bertindak sebagai suatu sarana fisik yang dapat mempengaruhi situasi belajar mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Dapat diartikan bahwa media bukan merupakan pelengkap melainkan adalah komponen yang tidak dapat dilepaskan dari proses belajar mengajar.[4]
B.   Media pendidikan dalam al-Qur’an
Al-Qur’an memuat segala hal untuk mengatur hidup manusia, termasuk masalah pendidikan. Dalam pendidikan tentunya ada yang namanya media pendidikan. Dalam bahasan di bawah ini akan diuraikan beberapa dalil tentang media pendidikan dalam al-Qur’a>n, di antaranya:
1              QS. Al – Nahl ayat:44 dan 89.
ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ̍ç/9$#ur 3 !$uZø9tRr&ur y7øs9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌhçR öNÍköŽs9Î) öNßg¯=yès9ur šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÍÍÈ [5]
Terjemahannya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ [6]
Terjemahannya:
Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.


1.                  Syarah mufradat ayat: 44
a.      الزبر
Kata zabu>r (زبور) dalam bentuk tunggal ditemui dalam al-qur’an sebanyak tiga kali, sedangkan dalam bentuk jamak, zubar (زبر)  atau zubur (زوبر) terdapat pada tujuh ayat diantaranya surah al-nahl ayat: 44 yang mana kata ini memiliki arti: kitab-kitab.[7]
b.      الذكر
Adz-dzikr (الذكر) merupakan salah satu nama kitab suci al-Qu’an, yang berarti peringatan; di dalam al-mu’jamul mufahras li al-fa>zhi al-qur’an, karangan fuad abdul baqi, memasukkan memasukkan kata mudakkir kedalam rumpun kata dzikr.
Didalam al-Qur’an terdapat 267 kata yang merupakan bentuk derivasi dari dzikr. Itu tidak termasuk 18 kata dzakara yang berarti laki-laki dan 7 kata muddakkir (denganmemakai dal).[8]
c.       نزل
Kata nuzzila berasal dari kata nazala yanzilu, nuzu>l, (نزل ينزل نزول ), yang secara harfiah berarti, perpindahan dari atas ke bawah (turun), baik secara fisik maupun non-fisik. Dengan demikian makna yang terkandung dari kata nuzu>l (نزول), disamping dapat menunjukkan tempat, juga menunjukan derajat dan kedudukan.
Di dalam al-Qur’an, kata yang bersal dari nazala (نزل) beserta berbagai bentuk, terulang 293 kali. Khususnya yang bersal dair kata (نزل) dengar berbagai bentuknya 79 kali, masing-masing 34 kali di dalam bentuk fi’il ma>dhi>, 28 kali dalam bentuk fi’il mudha>ri’, 15 kali dalam bentuk mashdar, sedangkan di dalam bentuk isim fa’il dan isim maf’ul,masing-masing satu kali.[9]
d.      يوم
Secara harfiah, kata (يوم) berarti ‘hari’, yang berdurasi 24 jam. Jika kata yau>m diperhadapkan dengan kata lail maka menurut batasan umum, yang disebut yau>m adalah waktu dari terbit matahari hingga terbenamnya. Namun, ada juga yang menyebut batasannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, sesuai dengan batasan waktu sehari untuk ibadah puasa. Bentuk jamaknya adalah ayya>m dan aya>wi>m. hanya bentuk jamak ayya>m yang digunakan dalam al-Qur’an.
Jika dinyatakan dengan (اليوم), dimaksudkan untuk waktu pada hari ini. Selain itu, kata (يوم) dapat diikuti dengan kata إذ  yang digabung menjadi(يوم إذٍ), yang berarti pada hari itu atau pada waktu itu. Dalam al-Qur’an, kata يوم yang berbentuk mufrad tersebut sebanyak 365 kali, dalam bentuk mus\anna> tersebut sebanyak 3 kali, dan dalam bentuk jamak tersebut sebanyak 27 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 405 kali.[10]
e.       شهيدا
Kata شهيدا terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf syi>n, ha> dan da>l yang makna dasarnya berkisar pada kehadiran, pengetahuan, informasi dan kesaksian.
Dalam al-Qur’an, kata syahi>d, ditemukan sebanyak 35 kali. Kata tersebut di samping menujukan kepada sifat Allah, juga para nabi, malaikat pemelihara, umat Nabi Muhammad saw. Yang gugur dijalan Allah, yang menyaksikan kebenaran atas makhluk Allah, teladan dan sekutu.[11]
f.        كتاب
Al-lita>b (كتاب) bentuk masdar dari kata kerja kataba (كتب) yang arti asalnya mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu. Namun arti yang lebih umum adalah mengumpulkan atau menggabungkan huruf-huruf menjadi tulisan; al-kita>b juga digunakan sebagai nama bagi sesuatu yang mengandung tulisan
Didalam al-qur’an al-kita>b disebut sebanyak 230 kali dan disamping mengandung arti yang telah dikemukakan di atas, yang berarti ‘ketetapan, hokum dan kewajiban.[12]
g.      هدى
Akar kata ini berasal dari kata hada> (هدى) yang didalam pengertian bahasa berarti “memberi petunjuk”. Kata hada> (هدى) biasa juga disebut dalam bahasa Indonesia dengan “hidayah” yang secara leksikal berarti “pentunjuk yang diberikan secara halus dan lemah lembut”.
Didalam al-Qur’an, kata huda> (هدى) dan kata lain yang seasal dengan disebut sebanyak 306 kali. Kata ini muncul didalam berbagai bentuk dan didalam konteks yang bermacam-macam.[13]
h.       ޳0
Kata basyar berakar dengan huruf-huruf ba>, syi>n, dan ra>. Yang bermakna pokok “tampaknya sesuatu dengan baik dan indah. Dari makna ini terbentuk kata kerja basyara, ޳0) yang berarti bergembira, menggembirakan, dan menguliti, (misalnya buah).
Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 37 kali, yakni 36 kali dalam bentuk mutsanna> untuk menunjukan manusia dari sudut lahirnya serta persamaanya dengan manusia seluruhnuya. [14]
2.      Penjelasan ayat
Ayat ini menegaskan Nabi saw. Untuk menjelaskan al-Qur’an. Baya>n atau penjelasan Nabi Muhammad saw. Itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Memang as-sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al-Qur;an dan fungsi sehubugan dengan pembinaan hokum syara’. Ada dua fungsi penjelasn nabi Muhammad saw. Dalam kaitannya dengan al-Qur’an, yaitu baya>n ta’ki>d dan baya>n tafsi>r. yang pertama sekedar menguatkan atau sekedar menggaris bawahi kembali apa yang terdapat dalam al-Qur’an, sedangkan yang kedua memperjelas, merinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayat-ayat al-Qur’an.[15]
Ingatlah kamu akan hari itu dan kegerian yang ada padanya serta kemuliaan yang besar dan kedudukan yang tinggi yang diberikan oleh allah kepadamu pada hari itu. Ibn mas’ud mengatakan bahwa telah dijelaskan kepada kita didalam al-Qur’an ini semua ilmu dan segala sesuatu. Menurut mujahid, telah dijelaskan didalam al-Qur’an semua perkara halal dan haram. Pendapat ibn mas’ud lebih umum dan lebih mencakup, karna sesungguhnya ilmu itu mencakup semua ilmu yang bermanfaat, menyangkut berita yang tedahulu dan pengetahuan tentang masa mendatag. Disebutkan pula semua perkara halal dan haram, serta segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan dan akhiratnya.[16]
C.           QS. Al-ma’idah ayat: 16
Ïôgtƒ ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ Ÿ@ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_̍÷ãƒur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ óOÎgƒÏôgtƒur 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)t Gó¡B ÇÊÏÈ [17]
Terjemahannya:
Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
1.      Syarah mufradat:
a.       رضوانه
Kata ridhwa>n dan pecahannya didalam al-Qur’an terulang sebanyak 73 kali.[18]
b.      سلام
Kata sala>m disebut 42 kali didalam al-Qur’an. Secara etimologis, kata itu berasal dari kata dasar salima سلم yang pada mulanya berarti selamat dan bebas dari bahaya. Yang dimaksu سلام dalam ayat ini yaitu menggambarkan sifat atau keadaan jalan-jalan yang ditelusuri oleh orang-orang yang beriman.[19]
c.       النور
            Kata nu>r نور terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf nu>n, wauw dan ra’. Maknanua yang popular adalah cahaya. Dari huruf-huruf ini juga dibentuk kata-kata yang bermakna, gejolak, kurang stabil dan tidak konsisten. Api dinamakan na>r bukan saja karna dia memberikan cahaya, tapi juga dia  bergejola dengan cepat. Kata ini ditemukan didalam al-Qur’an sebanya 33 kali.[20]
2.      Asbabul nuzul ayat ini
Ibn jarim meriwayatkan dari ikrimah, dia berkata, “Nabi saw didatangi orang-orang yahudi yang bertanya kepada beliau tentang hukum rajam . lalu Rasulullah bertanya, siapakah diantara kalian yang paling pandai? Merekapun menjawab ibn Shuriya. Lalu Rasulullah menyumpahnya dengan Zat yang menurunkan Taurat kepada Musa dan Zat yang mengangkat gunung thur, serta dengan perjanjian-perjanjian yang ditetapkan atas mereka sampai dia gemetaran. Lalu di apun berkata, ‘sesungguhnya banyak orang dibunuh karna melakukan zina, ahirnya kami hanya menghukum pelakunya dengan cambuk seratus kali dan kepalanya digundulin.
            Ahirnya orang yahudi yang melakukan zina itu pun dirajam. Lalu allah menurunkan ayat 15-16 dalam surat al-Mai’dahh.[21]
3.      Kandungan ayat
Ayat sesudah ayat ini juga, berbicara tentang telah datangnya nu>r dan kitab suci. Ayat ini menjelaskan fungsi kehadiran keduanya dan terhadap siapa keduanya dapat berfungsi baik. Dengannya, yakni dengan nu>r dan kitab suci itu, allah menunjukan orang-orang yang diketahui-Nya bersungguh-sungguh berusaha ingin mengikuti jalan menuju keridhaan-Nya. Allah menujukan mereka salah satu atau satu demi satu jalan-jalan keselamatan yang menjaga mereka dari segala macam kekeruhan jiwa dan bencana baik didunia maupun di akhirat, dan allah mengeluarkan mereka yakni orang-orang yang memiliki kesungguhan itu dari aneka kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya, dan menujuki mereka ke jalan yang lurus, jalan lebar dan mudah dan guna meraih kebahagiaan.[22]
D.  QS. Al-Ahzab ayat: 21 
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ [23].
Terjemahannya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
1.      Syarah mufradat
a.       الله
Allah adalah nama Tuhan yang paling popular. Para ulama berbeda pendapat menyangkut lafal mulia ini, apakah ia termasuk al asma>’ al h{usna atau tidak. Banyak ulama yang berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah Ila>h yang dibubuhi dengan Alif dan Lam. Dengan demikian Allah merupakan nama khusus yang tidak dikenal bentuk jamaknya. Para ulama mengartikan Ila>h dengan “yang disembah”, menegaskan bahwa Ila>h adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh agama Islam maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni dzat yang wajib wujud-Nya, Allah swt. karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan La> Ila>ha Illa> Alla>h maka dia telah menafikan segala tuhan, kecuali Tuhan yang nama-Nya “Allah.”[24]
b.      اخرة
Kata a>khirah اخرة disebut 115 kali didalam al-Qur’an. Kata ini selalu disebut secara tersendiri. Asal kata a>khirah اخرة adalah al-akhir الاخر kata ini juga berarti ujung dari sesuatu.[25]
c.    كثيرا
Kata كثيرا berasal dari kata katsrah كثرة kitsrah كثرة dan kutsr  كثرyang secara bahasa yang berarti lawan sedikit, yaitu banyak dan kata ini disebut sebanyak 80 kali didalam al-Qur’an.[26]       
2.      Kandungan ayat
Ayat ini, walau berbicara dalam konteks perang khandak, ia mencakup kewajiban atau anjuran meneladani beliau walau diluar konteks tersebut. Ini karna allah swt. Telah mempersiapkan tokoh agung ini untuk menjadi teladan bagi semua manusia. Yang maha kuasa itu sendiri yang mendidik beliau. “addabani> rabbi>, fa ah}sana ta‘di>bi>” (tuhanku mendidikku, maka sungguh baik hasil pendidikanku).
                 Pakar tafsir dan hukum, al-Qurthubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia adalah anjuran.
                 Imam al-Qa>ra>fi merupakan ulama pertama yang menegaskan pemilihan-pemilihan terperinci menyangkut ucapan/sikap Nabi Muhammad saw. Menurutnya, junjungan kita, Muhammad saw., dapat berperan sebagi Rasul, atau mufti, atau hakim agung, atau pemimpin masyarakat dan dapat juga sebagai manusia, yang memiliki kekhususan yang membedakan beliau dari manusia-manusia lain, sebagai mana perbedan seorang dengan yang lainnya.[27]
E.   QS. Al – Nahl ayat: 125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ[28]
Terjemahannya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
1.      Syarah mufradat:
a.       ادع
Di dalam bahasa Indonesia kata ini diartikan sebagai, berseru, menyeru, memohon, atau berdo’a’. memohon sesuatu kepada allah disebut do’a, sedangkan mengajak orang kepada kebajikan disebut dakwah. Orang yang berdo’a atau berdakwah disebut da’i.
Kata ini disebutkan dalam bentuk fi’il ma>dhi> sebanyak 25 kali, sedangkan dalam bentuk fi’il mudhari sebanyak 111 kali dan dalam fi’il amr disebutkan sebanyak 32 kali.[29]
b.      سبيل
Kata sabi>l سبيل terambil dari akar kata yang terdiri atas tiga huruf, yaitu: si>n-ba>-la>m. menurut ibnu faris akar kata tersebut berkisar pada dua makna pokok yaitu: terlepasnya sesuatu dari atas ke bawah dan terbentangnya sesuatu.
Didalam al-Qur’an bentuk mufrad, sabi>l سبيل terulang sebanyak 166 kali, sedangkan bentuk jamaknya سبل terulang sebanyak 10 kali sehingga semuanya berjumlah 176 kali.[30]
2.      Penjelasan ayat
Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad saw. Agar menyeru manusia untuk menyembah allah dengan cara ynag bijaksana.
Ibn jarir mengatakan bahwa yang diserukan kepada manusia ialah wahyu yang diturunkan kepadanya berupa al-Qur’an, sunnah, dan pelajaran yang baik; yakni yang tekandung didalamnya berupa larangan-larangan dan kejadian-kejadian yang menimpa manusia (di masa lalu). Pelajaran yang baik itu agar dijadikan peringatan buat mereka akan pembalasan Allah swt. (terhadap mereka yang durhaka.[31]
F.    QS. Ibrahim ayat: 24-27
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $y gè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ   þÎA÷sè? $ygn=à2é& ¨@ä. ¤ûüÏm ÈbøŒÎ*Î/ $ygÎn/u 3 ÛUÎŽôØour ª!$# tA$sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍞2xtGtƒ ÇËÎÈ   ã@sVtBur >pyJÎ=x. 7psWÎ7yz >otyft±x. >psVÎ6yz ôM¨VçGô_$# `ÏB É-öqsù ÇÚöF{$# $tB $ygs9 `ÏB 9#ts% ÇËÏÈ   àMÎm6sVムª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ÉAöqs)ø9$$Î/ ÏMÎ/$¨V9$# Îû Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# Îûur ÍotÅzFy$# ( @ÅÒãƒur ª!$# šúüÏJÎ=»©à9$# 4 ã@yèøÿtƒur ª!$# $tB âä!$t±tƒ ÇËÐÈ[32]
Terjemahannya:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
1.      Syarah mufradat:
a.        ضرب
Wazan kata ini adalah ضرب يضرب ضربا di dalam bentuk kata kerja dan kata benda, kata ini di dalam al-Qur’an disebut 58 kali, tersebut di dalam 28 serat 15 surat makkiyah dan 13 surat madaniyah. Menurut al-Raghib, kata ضرب  berarti, memukul sesuatu dengan sesuatu yang lain, misalnya dengan tangan, tongkat, atau pedang.[33]
b.      مثلا
Masdarnya adalah مثل  kata ini dan turunannya di dalam al-Qur’an disebut 169 kali.[34]
c.       طيبه
Kata thayib طيب  berasal dari kata kerja tha>ba-yathi>bu  طاب-يطيب bermakna, suci, baik, bagus, halal, memerkenakan dan membiarkan. Didalam al-Qur’an kata طيب dengan berbagai bentuknya disebut sebanyak 46 kali.[35]
d.      الارض
Kat ardh ارض  yang ada didalam al-Qut’an biasa diartikan sebagai ‘bumi’. Akan tetapi tidak semua kata itu diartikan sebagai bumi. Karena ada juga yang digunakan untuk menginformasikan penciptaan alam semesta dengan system tatasurya (solar system) belum terbentuk seperti sekarang.
Kata  ارض  di dalam al-Qur’an sebanyak 461 kali di dalam 80 surah hanya disebut dalam bentuk mufrad (tunggal) saja dan tidak pernah muncul di dalam bentuk jamak.[36]
e.       الحيوة
Kata ini di dalam al-Qur’an disebut sebanyak 76 kali, tersebut di dalam beberapa surah, antara lain surah Ibrahim. Secara  etimologis kata h}aya> yang pada asalnya memiliki dua arti. Yang pertama: ‘kehidupan’ , sebagai lawan dari kematian, sdangkan yang kedua: ‘rasa malu’ yang di ungkap dengan bentuk h}aya>’ حياء.[37]
الاخرة
Kata a>khirah اخرة disebut 115 kali di dalam al-Qur’an. Kata ini selalu disebut secara tersendiri dan memiliki arti akhirat. Kata اخرة juga ditemukan didalam perbendeharaan bahasa Indonesia dengan pengertian yang lebih kurang sama.[38]

2.       penjelasan ayat:
maksudnya. Berkat kalimat tersebut amalan orang mukmin dinaikkan ke langit. Demikianlah menurut ad-Dahhak, sa’id ibn jubair, ikrimah, mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya hal itu merupakan perumpamaan tentang amal perbuatan orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus menerus dinaikkan ke (langit) baginya setiap waktu pagi dan petang. Hal yang sama diriwayatkan oleh As-Saddi, dari murrah, dari ibn mas’ud mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma.
            Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan kullah hi>nin ialah setip pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bula. Pendapat lain mengatakan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada pula yang mengatakan setiap tahun.
            Makna lahiriah konteks ayat menujukan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun dimusim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun disiang hari, setiap waktu.[39]


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu medium yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Dalam aktivitas pembelajaran, media adalah sesuatu yang merupakan bagian di dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik seperti yang diungkapkan Gearlach dan Ely dalam Fathurrohman dan Sutikno bahwa “media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”.
2.      Makna lahiriah konteks ayat menujukan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun dimusim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun disiang hari, setiap waktu.
3.      keteladanan itu merupakan kewajiban, tapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia adalah anjuran.



DAFTAR PUSTAKA
Bakar, Diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu, Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.
Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Bandung : Lubuk Agung, 1989.
Hayye, Tim Abdul. Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an. Cet: I, Jakarta: Gemas Insani, 2008, h. 221
al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid I. Cet. 2; Semarang: PT karya Toha Putra Semarang, 1992.
Shihab, M. Quraish.  Membumikan al- Quran. Bandung: Mizan, 1995.
                              . Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007.
                              .Tafsi> al-Mishba>h}. Cet. V; Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434 H.




[1] M. Quraish Shihab,  Membumikan al- Quran  (Bandung: Mizan, 1995), h. 172.
[2]Ahmad Mustafa al-Maragi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid 1 (Cet. 2; Semarang: PT karya Toha Putra Semarang, 1992) h. 3
[3] perantara; penghubung
[4] http://www.m-edukasi.web.id/2012/08/pengertian-media-pendidikan.html
[5]Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung : Lubuk Agung, 1989), hal. 273.
[6] Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 278.
[7] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 1119.
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 191-192.
[9]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007)  h. 722.
[10] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 1107.
[11] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 934
[12] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II h. 494
[13]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 315.
[14]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I, h 138-139.
[15] M. Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}, Jilid. VII, (Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2005 M/1426 H.), h. 239.
[16] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. , (Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.), h. 238-239
[17]Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 111.
[18]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 803.
[19]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 870.
[20] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II h. 734
[21]Tim Abdul Hayye, Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an. Cet: I, Jakarta: Gemas Insani, 2008, h. 221
[22] M. Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}, Jilid. III, (Cet. V; Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434 H.), h. 67
[23]Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 421.
[24]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz. II, h. 75-77
[25]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,  h. 71.
[26] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz. II, h. 435-436
[27] M. Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}, Jilid. X, (Cet. V; Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434 H.), h.439-441.
[28] Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 282.
[29]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,  h. 152
[30] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia  Al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III h. 254.
[31] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I. Juz. XIV, h. 292.
[32] Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 259-260.
[33] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,  h. 171.
[34] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran: Kajian Kosa Kata, Juz. II, h. 611
[35] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia  Al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III h.1005.
[36] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 94-95
[37] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 306
[38] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 71
[39] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I. Juz. XIV, h. 312-315.

0 komentar:

Posting Komentar