BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah wahyu
Allah dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam.[1]
Al-Qur’an
adalah undang-undang syari’at dan sumber hukum, yang harus ditaati dan
diamalkan oleh setiap muslim. Di dalamnya termuat masalah-masalah halal haram,
serta amar ma’ruf nahi munkar. Al-Qur’an juga
sebagai sumber inspirasi sastra
dan akhlak. Di situ, setiap muslim diperintahkan untuk berpegang teguh
pada prinsip-prinsip al-Qur’an. Dengan demikian, mereka akan memperoleh
kebahagiaan dan petunjuk yang akan mengantarkan mereka di dalam memperoleh
keberuntungan di hadapanNya kelak di akhirat.[2]
Kehidupan
ummat manusia tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi umat manusia Islam. Sebagai seorang calon pendidik,
tentunya diharapkan menjadi seorang
pendidik yang profesional. Dalam Al–Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi
guru atau pendidik yang baik dan profeional. Dengan demikian akan dapat
bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran islam. Selain mendapatkan
rizqi, juga akan mendapatkan berkah dan ridho dari Allah swt. Kalau berbicara
mengenai pendidikan tentu tidak terlepas dari yang namanya media[3]
ada beberapa ayat didalam al-qur’an yang membahas mengenai media pendidikan. Pada
makalah ini akan dibahas lebih terperinci mengenai ayat-ayat tentang media
pendidikan menurut al-Qur’an.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan inti latar belakang
diatas tentang bagaimana penjelasan bagaimana media pendidikin maka muncullah
beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.
Apa pengertian media pendidikan?
2.
Bagaimana teks dan terjemah ayat
media pendidikan?
3.
Bagaimana syarah mufradat ayat-ayat media
pendidikan?
4.
Bagaiman kandungan dan asbab
al-nuzul ayat-ayat media pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Media
Pendidikan
Media
pendidikan mempunyai peran yang sangat penting di dalam kegiatan pengajaran.
Kehadiran media di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam rangka efektifitas
dan defisiensi pengajaran sangat di perlukan. Dalam dunia pengajaran, pada
umumnya atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi, yakni guru
sedangkan sebagai penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang
dikomunikasikan sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh siswa, meliputi
kemampuan kognitif bersifat intelektual, kemampuan psikomotorik yang bersifat
jasmaniah atau keterampilan fisik. Kemampuan itu dikomunikasikan melalui
berbagai saluran, yaitu saluran penglihatan (visual), saluran pendengaran
(audio), saluran penglihatan dan pendengaran (audio visual), saluran perasaan
(sense), dan saluran yang berwujud penampilan (performance).
Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu
medium yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Dalam aktivitas pembelajaran,
media adalah sesuatu yang merupakan bagian di dalam interaksi yang berlangsung
antara pendidik dengan peserta didik seperti yang diungkapkan Gearlach dan Ely
dalam Fathurrohman dan Sutikno bahwa “media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”.
Dari definisi-definisi para ahli kebahasaan
dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran dan perasaan dalam interaksi antara
pengajar dan pembelajar. Media pembelajaran bertindak sebagai suatu sarana
fisik yang dapat mempengaruhi situasi belajar mengajar baik di dalam maupun di
luar kelas. Dapat diartikan bahwa media bukan merupakan pelengkap melainkan
adalah komponen yang tidak dapat dilepaskan dari proses belajar mengajar.[4]
B. Media pendidikan
dalam al-Qur’an
Al-Qur’an memuat segala hal untuk
mengatur hidup manusia, termasuk masalah pendidikan. Dalam pendidikan tentunya
ada yang namanya media pendidikan. Dalam bahasan di bawah ini akan diuraikan
beberapa dalil tentang media pendidikan dalam al-Qur’a>n, di antaranya:
1
QS.
Al – Nahl ayat:44 dan 89.
ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ Ìç/9$#ur 3 !$uZø9tRr&ur y7øs9Î) tò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌhçR öNÍkös9Î) öNßg¯=yès9ur crã©3xÿtGt ÇÍÍÈ [5]
Terjemahannya:
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.
dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
tPöqtur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur Î/ #´Íky 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur øn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ [6]
Terjemahannya:
Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan
pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami
datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami
turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
1.
Syarah mufradat ayat: 44
a. الزبر
Kata zabu>r (زبور) dalam bentuk tunggal ditemui dalam al-qur’an sebanyak
tiga kali, sedangkan dalam bentuk jamak, zubar (زبر) atau zubur (زوبر) terdapat pada tujuh ayat
diantaranya surah al-nahl ayat: 44 yang mana kata ini memiliki arti:
kitab-kitab.[7]
b. الذكر
Adz-dzikr (الذكر) merupakan salah satu nama kitab suci al-Qu’an, yang
berarti peringatan; di dalam al-mu’jamul mufahras li al-fa>zhi al-qur’an,
karangan fuad abdul baqi, memasukkan memasukkan kata mudakkir kedalam
rumpun kata dzikr.
Didalam al-Qur’an terdapat 267 kata yang merupakan bentuk
derivasi dari dzikr. Itu tidak termasuk 18 kata dzakara yang
berarti laki-laki dan 7 kata muddakkir (denganmemakai dal).[8]
c. نزل
Kata nuzzila berasal dari kata nazala yanzilu,
nuzu>l, (نزل ينزل نزول ), yang
secara harfiah berarti, perpindahan dari atas ke bawah (turun), baik secara
fisik maupun non-fisik. Dengan demikian makna yang terkandung dari kata nuzu>l
(نزول),
disamping dapat menunjukkan tempat, juga menunjukan derajat dan kedudukan.
Di dalam al-Qur’an, kata yang bersal dari nazala (نزل) beserta berbagai bentuk, terulang
293 kali. Khususnya yang bersal dair kata (نزل) dengar berbagai bentuknya 79 kali, masing-masing 34 kali
di dalam bentuk fi’il ma>dhi>, 28 kali dalam bentuk fi’il
mudha>ri’, 15 kali dalam bentuk mashdar, sedangkan di dalam
bentuk isim fa’il dan isim maf’ul,masing-masing satu kali.[9]
d. يوم
Secara harfiah, kata (يوم) berarti
‘hari’, yang berdurasi 24 jam. Jika kata yau>m diperhadapkan dengan kata
lail maka menurut batasan umum, yang disebut yau>m adalah waktu dari terbit
matahari hingga terbenamnya. Namun, ada juga yang menyebut batasannya dari
mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, sesuai dengan batasan waktu sehari
untuk ibadah puasa. Bentuk jamaknya adalah ayya>m dan aya>wi>m. hanya
bentuk jamak ayya>m yang digunakan dalam al-Qur’an.
Jika dinyatakan dengan (اليوم), dimaksudkan untuk waktu pada hari
ini. Selain itu, kata (يوم)
dapat diikuti dengan kata إذ yang digabung menjadi(يوم إذٍ), yang berarti pada hari itu atau pada
waktu itu. Dalam al-Qur’an, kata يوم yang berbentuk mufrad tersebut sebanyak
365 kali, dalam bentuk mus\anna> tersebut sebanyak 3 kali, dan dalam bentuk
jamak tersebut sebanyak 27 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 405 kali.[10]
e. شهيدا
Kata شهيدا terambil
dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf syi>n, ha> dan da>l yang
makna dasarnya berkisar pada kehadiran, pengetahuan, informasi dan kesaksian.
Dalam al-Qur’an, kata syahi>d,
ditemukan sebanyak 35 kali. Kata tersebut di samping menujukan kepada sifat
Allah, juga para nabi, malaikat pemelihara, umat Nabi Muhammad saw. Yang gugur
dijalan Allah, yang menyaksikan kebenaran atas makhluk Allah, teladan dan
sekutu.[11]
f.
كتاب
Al-lita>b (كتاب) bentuk masdar dari kata kerja kataba
(كتب) yang
arti asalnya mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu. Namun arti yang lebih umum
adalah mengumpulkan atau menggabungkan huruf-huruf menjadi tulisan; al-kita>b
juga digunakan sebagai nama bagi sesuatu yang mengandung tulisan
Didalam al-qur’an al-kita>b disebut
sebanyak 230 kali dan disamping mengandung arti yang telah dikemukakan di atas,
yang berarti ‘ketetapan, hokum dan kewajiban.[12]
g. هدى
Akar kata ini berasal dari kata hada>
(هدى) yang
didalam pengertian bahasa berarti “memberi petunjuk”. Kata hada> (هدى) biasa juga disebut dalam bahasa
Indonesia dengan “hidayah” yang secara leksikal berarti “pentunjuk yang
diberikan secara halus dan lemah lembut”.
Didalam al-Qur’an, kata huda> (هدى) dan kata lain yang seasal dengan
disebut sebanyak 306 kali. Kata ini muncul didalam berbagai bentuk dan didalam
konteks yang bermacam-macam.[13]
h.
³0
Kata basyar berakar dengan
huruf-huruf ba>, syi>n, dan ra>. Yang bermakna pokok “tampaknya
sesuatu dengan baik dan indah. Dari makna ini terbentuk kata kerja basyara, ( ³0) yang
berarti bergembira, menggembirakan, dan menguliti, (misalnya buah).
Al-Qur’an menggunakan kata basyar
sebanyak 37 kali, yakni 36 kali dalam bentuk mutsanna> untuk
menunjukan manusia dari sudut lahirnya serta persamaanya dengan manusia
seluruhnuya. [14]
2.
Penjelasan ayat
Ayat ini menegaskan
Nabi saw. Untuk menjelaskan al-Qur’an. Baya>n atau penjelasan Nabi
Muhammad saw. Itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Memang as-sunnah
mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al-Qur;an dan fungsi sehubugan dengan
pembinaan hokum syara’. Ada dua fungsi penjelasn nabi Muhammad saw.
Dalam kaitannya dengan al-Qur’an, yaitu baya>n ta’ki>d dan baya>n
tafsi>r. yang pertama sekedar menguatkan atau sekedar menggaris bawahi
kembali apa yang terdapat dalam al-Qur’an, sedangkan yang kedua memperjelas,
merinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayat-ayat al-Qur’an.[15]
Ingatlah kamu akan
hari itu dan kegerian yang ada padanya serta kemuliaan yang besar dan kedudukan
yang tinggi yang diberikan oleh allah kepadamu pada hari itu. Ibn mas’ud
mengatakan bahwa telah dijelaskan kepada kita didalam al-Qur’an ini semua ilmu
dan segala sesuatu. Menurut mujahid, telah dijelaskan didalam al-Qur’an semua
perkara halal dan haram. Pendapat ibn mas’ud lebih umum dan lebih mencakup,
karna sesungguhnya ilmu itu mencakup semua ilmu yang bermanfaat, menyangkut
berita yang tedahulu dan pengetahuan tentang masa mendatag. Disebutkan pula
semua perkara halal dan haram, serta segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia
dalam urusan dunia, agama, penghidupan dan akhiratnya.[16]
C.
QS. Al-ma’idah ayat: 16
Ïôgt ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ @ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_Ì÷ãur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ óOÎgÏôgtur 4n<Î) :ÞºuÅÀ 5OÉ)t Gó¡B ÇÊÏÈ [17]
Terjemahannya:
Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang
yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula)
Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
1.
Syarah mufradat:
a. رضوانه
Kata ridhwa>n
dan pecahannya didalam al-Qur’an terulang sebanyak 73 kali.[18]
b. سلام
Kata sala>m
disebut 42 kali didalam al-Qur’an. Secara etimologis, kata itu berasal dari
kata dasar salima سلم
yang pada mulanya berarti selamat dan bebas dari bahaya. Yang dimaksu سلام dalam ayat ini yaitu menggambarkan sifat
atau keadaan jalan-jalan yang ditelusuri oleh orang-orang yang beriman.[19]
c. النور
Kata nu>r نور
terambil
dari akar kata yang terdiri dari huruf nu>n, wauw dan ra’.
Maknanua yang popular adalah cahaya. Dari huruf-huruf ini juga dibentuk
kata-kata yang bermakna, gejolak, kurang stabil dan tidak konsisten. Api
dinamakan na>r bukan saja karna dia memberikan cahaya, tapi juga dia bergejola dengan cepat. Kata ini ditemukan
didalam al-Qur’an sebanya 33 kali.[20]
2.
Asbabul
nuzul ayat ini
Ibn jarim
meriwayatkan dari ikrimah, dia berkata, “Nabi saw didatangi orang-orang yahudi
yang bertanya kepada beliau tentang hukum rajam . lalu Rasulullah bertanya,
siapakah diantara kalian yang paling pandai? Merekapun menjawab ibn Shuriya.
Lalu Rasulullah menyumpahnya dengan Zat yang menurunkan Taurat kepada Musa dan
Zat yang mengangkat gunung thur, serta dengan perjanjian-perjanjian yang
ditetapkan atas mereka sampai dia gemetaran. Lalu di apun berkata,
‘sesungguhnya banyak orang dibunuh karna melakukan zina, ahirnya kami hanya
menghukum pelakunya dengan cambuk seratus kali dan kepalanya digundulin.
Ahirnya orang yahudi yang melakukan
zina itu pun dirajam. Lalu allah menurunkan ayat 15-16 dalam surat al-Mai’dahh.[21]
3.
Kandungan ayat
Ayat sesudah ayat ini
juga, berbicara tentang telah datangnya nu>r dan kitab suci. Ayat ini
menjelaskan fungsi kehadiran keduanya dan terhadap siapa keduanya dapat
berfungsi baik. Dengannya, yakni dengan nu>r dan kitab suci itu, allah
menunjukan orang-orang yang diketahui-Nya bersungguh-sungguh berusaha ingin
mengikuti jalan menuju keridhaan-Nya. Allah menujukan mereka salah satu
atau satu demi satu jalan-jalan keselamatan yang menjaga mereka dari
segala macam kekeruhan jiwa dan bencana baik didunia maupun di akhirat, dan
allah mengeluarkan mereka yakni orang-orang yang memiliki kesungguhan itu dari
aneka kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya, dan
menujuki mereka ke jalan yang lurus, jalan lebar dan mudah dan guna meraih
kebahagiaan.[22]
D. QS.
Al-Ahzab ayat: 21
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ [23].
Terjemahannya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
1.
Syarah
mufradat
a.
الله
Allah adalah nama Tuhan
yang paling popular. Para ulama berbeda pendapat menyangkut lafal mulia ini,
apakah ia termasuk al asma>’ al h{usna atau tidak. Banyak ulama yang
berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah Ila>h yang dibubuhi
dengan Alif dan Lam. Dengan demikian Allah merupakan nama khusus yang tidak
dikenal bentuk jamaknya. Para ulama mengartikan Ila>h dengan “yang
disembah”, menegaskan bahwa Ila>h adalah segala sesuatu yang
disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh agama Islam maupun yang
dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni dzat yang wajib wujud-Nya, Allah
swt. karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan La> Ila>ha Illa>
Alla>h maka dia telah menafikan segala tuhan, kecuali Tuhan yang
nama-Nya “Allah.”[24]
b.
اخرة
Kata a>khirah اخرة disebut 115 kali didalam al-Qur’an. Kata ini selalu disebut secara
tersendiri. Asal kata a>khirah اخرة adalah al-akhir الاخر kata ini juga berarti ujung dari sesuatu.[25]
c.
كثيرا
Kata كثيرا berasal dari kata katsrah كثرة kitsrah كثرة dan kutsr كثرyang secara bahasa yang berarti lawan sedikit, yaitu banyak dan kata ini disebut
sebanyak 80 kali didalam al-Qur’an.[26]
2.
Kandungan
ayat
Ayat ini, walau
berbicara dalam konteks perang khandak, ia mencakup kewajiban atau anjuran
meneladani beliau walau diluar konteks tersebut. Ini karna allah swt. Telah
mempersiapkan tokoh agung ini untuk menjadi teladan bagi semua manusia. Yang
maha kuasa itu sendiri yang mendidik beliau. “addabani> rabbi>, fa
ah}sana ta‘di>bi>” (tuhanku mendidikku, maka sungguh baik hasil
pendidikanku).
Pakar tafsir dan hukum,
al-Qurthubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu
merupakan kewajiban, tapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran.
Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang
menunjukan bahwa ia adalah anjuran.
Imam al-Qa>ra>fi
merupakan ulama pertama yang menegaskan pemilihan-pemilihan terperinci menyangkut
ucapan/sikap Nabi Muhammad saw. Menurutnya, junjungan kita, Muhammad saw.,
dapat berperan sebagi Rasul, atau mufti, atau hakim agung, atau pemimpin
masyarakat dan dapat juga sebagai manusia, yang memiliki kekhususan yang
membedakan beliau dari manusia-manusia lain, sebagai mana perbedan seorang
dengan yang lainnya.[27]
E.
QS. Al – Nahl ayat: 125
äí÷$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ[28]
Terjemahannya:
Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.
1.
Syarah mufradat:
a. ادع
Di
dalam bahasa Indonesia kata ini diartikan sebagai, berseru, menyeru, memohon,
atau berdo’a’. memohon sesuatu kepada allah disebut do’a, sedangkan mengajak
orang kepada kebajikan disebut dakwah. Orang yang berdo’a atau berdakwah
disebut da’i.
Kata
ini disebutkan dalam bentuk fi’il ma>dhi> sebanyak 25 kali,
sedangkan dalam bentuk fi’il mudhari sebanyak 111 kali dan dalam fi’il
amr disebutkan sebanyak 32 kali.[29]
b. سبيل
Kata
sabi>l سبيل
terambil dari akar kata yang terdiri atas tiga huruf, yaitu:
si>n-ba>-la>m. menurut ibnu faris akar kata tersebut berkisar pada dua
makna pokok yaitu: terlepasnya sesuatu dari atas ke bawah dan terbentangnya
sesuatu.
Didalam
al-Qur’an bentuk mufrad, sabi>l سبيل terulang sebanyak 166
kali, sedangkan bentuk jamaknya سبل terulang sebanyak 10 kali sehingga
semuanya berjumlah 176 kali.[30]
2.
Penjelasan
ayat
Allah swt
memerintahkan kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad saw. Agar menyeru manusia untuk
menyembah allah dengan cara ynag bijaksana.
Ibn jarir mengatakan
bahwa yang diserukan kepada manusia ialah wahyu yang diturunkan kepadanya
berupa al-Qur’an, sunnah, dan pelajaran yang baik; yakni yang tekandung
didalamnya berupa larangan-larangan dan kejadian-kejadian yang menimpa manusia
(di masa lalu). Pelajaran yang baik itu agar dijadikan peringatan buat mereka
akan pembalasan Allah swt. (terhadap mereka yang durhaka.[31]
F.
QS. Ibrahim ayat: 24-27
öNs9r& ts? y#øx. z>uÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $y gè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ þÎA÷sè? $ygn=à2é& ¨@ä. ¤ûüÏm ÈbøÎ*Î/ $ygÎn/u 3 ÛUÎôØour ª!$# tA$sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 crã2xtGt ÇËÎÈ ã@sVtBur >pyJÎ=x. 7psWÎ7yz >otyft±x. >psVÎ6yz ôM¨VçGô_$# `ÏB É-öqsù ÇÚöF{$# $tB $ygs9 `ÏB 9#ts% ÇËÏÈ àMÎm6sVã ª!$# úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ÉAöqs)ø9$$Î/ ÏMÎ/$¨V9$# Îû Ío4quptø:$# $u÷R9$# Îûur ÍotÅzFy$# ( @ÅÒãur ª!$# úüÏJÎ=»©à9$# 4 ã@yèøÿtur ª!$# $tB âä!$t±t
ÇËÐÈ[32]
Terjemahannya:
Tidakkah kamu
perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti
pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu
memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan
kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan
akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim
dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
1.
Syarah mufradat:
a.
ضرب
Wazan kata ini adalah ضرب
يضرب ضربا di dalam bentuk kata kerja dan kata benda, kata ini di dalam
al-Qur’an disebut 58 kali, tersebut di dalam 28 serat 15 surat makkiyah dan
13 surat madaniyah. Menurut al-Raghib, kata ضرب berarti, memukul sesuatu dengan sesuatu
yang lain, misalnya dengan tangan, tongkat, atau pedang.[33]
b.
مثلا
c. طيبه
Kata thayib طيب berasal dari kata kerja tha>ba-yathi>bu طاب-يطيب
bermakna, suci, baik, bagus, halal, memerkenakan dan membiarkan. Didalam
al-Qur’an kata طيب dengan berbagai bentuknya disebut sebanyak 46 kali.[35]
d. الارض
Kat ardh
ارض yang ada didalam al-Qut’an biasa diartikan
sebagai ‘bumi’. Akan tetapi tidak semua kata itu diartikan sebagai bumi. Karena
ada juga yang digunakan untuk menginformasikan penciptaan alam semesta dengan
system tatasurya (solar system) belum terbentuk seperti sekarang.
Kata ارض
di dalam al-Qur’an sebanyak 461 kali di dalam
80 surah hanya disebut dalam bentuk mufrad (tunggal) saja dan tidak
pernah muncul di dalam bentuk jamak.[36]
e. الحيوة
Kata ini di
dalam al-Qur’an disebut sebanyak 76 kali, tersebut di dalam beberapa surah,
antara lain surah Ibrahim. Secara
etimologis kata h}aya> yang pada asalnya memiliki dua arti.
Yang pertama: ‘kehidupan’ , sebagai lawan dari kematian, sdangkan yang kedua:
‘rasa malu’ yang di ungkap dengan bentuk h}aya>’ حياء.[37]
الاخرة
Kata a>khirah
اخرة disebut
115 kali di dalam al-Qur’an. Kata ini selalu disebut secara tersendiri dan
memiliki arti akhirat. Kata اخرة juga ditemukan didalam perbendeharaan
bahasa Indonesia dengan pengertian yang lebih kurang sama.[38]
2.
penjelasan ayat:
maksudnya. Berkat
kalimat tersebut amalan orang mukmin dinaikkan ke langit. Demikianlah menurut
ad-Dahhak, sa’id ibn jubair, ikrimah, mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya
seorang, bahwa sesungguhnya hal itu merupakan perumpamaan tentang amal
perbuatan orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus menerus
dinaikkan ke (langit) baginya setiap waktu pagi dan petang. Hal yang sama
diriwayatkan oleh As-Saddi, dari murrah, dari ibn mas’ud mengatakan bahwa pohon
yang dimaksud adalah pohon kurma.
Menurut suatu pendapat, yang
dimaksud dengan kullah hi>nin
ialah setip pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bula. Pendapat
lain mengatakan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada
pula yang mengatakan setiap tahun.
Makna
lahiriah konteks ayat menujukan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan
pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun
dimusim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal
salehnya terus menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam
maupun disiang hari, setiap waktu.[39]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Kata media berasal dari bahasa
Latin yaitu medium yang berarti “perantara” atau “pengantar”. Dalam aktivitas
pembelajaran, media adalah sesuatu yang merupakan bagian di dalam interaksi
yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik seperti yang diungkapkan
Gearlach dan Ely dalam Fathurrohman dan Sutikno bahwa “media apabila dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu
kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”.
2.
Makna lahiriah konteks ayat
menujukan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu
mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun dimusim dingin,
siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus
menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun disiang hari,
setiap waktu.
3.
keteladanan itu merupakan kewajiban,
tapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. Dalam soal keagamaan,
beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia adalah
anjuran.
DAFTAR PUSTAKA
Bakar,
Diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu, Tafsir Ibnu Katsier. Cet.
I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.
Departemen agama RI, Al-Quran dan
Terjemahnya, Bandung : Lubuk Agung, 1989.
Hayye,
Tim Abdul. Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an. Cet: I, Jakarta: Gemas Insani,
2008, h. 221
al-Maragi,
Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid I. Cet. 2; Semarang: PT
karya Toha Putra Semarang, 1992.
Shihab,
M. Quraish. Membumikan al- Qur‟an. Bandung:
Mizan, 1995.
.
Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007.
.Tafsi> al-Mishba>h}. Cet. V;
Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434 H.
[2]Ahmad Mustafa
al-Maragi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid 1 (Cet. 2; Semarang: PT
karya Toha Putra Semarang, 1992) h. 3
[7] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007),
h. 1119.
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h.
191-192.
[9]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007) h. 722.
[10] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 1107.
[11] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 934
[12] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II h. 494
[13]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 315.
[15] M. Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}, Jilid. VII, (Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2005 M/1426
H.), h. 239.
[16] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan
oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. ,
(Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.), h. 238-239
[18]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III, h. 803.
[20] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II h. 734
[21]Tim Abdul Hayye, Sebab
Turunnya Ayat al-Qur’an. Cet: I, Jakarta: Gemas Insani, 2008, h. 221
[22] M. Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}, Jilid. III, (Cet. V; Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434
H.), h. 67
[25]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,
h. 71.
[27] M. Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}, Jilid. X, (Cet. V; Jakarta: Lentera Hati, 2012 M/1434 H.),
h.439-441.
[29]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,
h. 152
[30] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III h.
254.
[31] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan
oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I.
Juz. XIV, h. 292.
[33] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I,
h. 171.
[34] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran: Kajian Kosa Kata, Juz. II, h. 611
[35] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III h.1005.
[36] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 94-95
[37] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. I h. 306
[39] Ibnu Kasi>r, diterjemahkan
oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I. Juz.
XIV, h. 312-315.







0 komentar:
Posting Komentar