Kamis, 09 April 2015

Tafsiran Ayat Tentang Bahaya Durhaka Kepada Orang Tua

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Al-Quran adalah wahyu Allah dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam.[1] Al-Qur’an adalah undang-undang syari’at dan sumber hukum, yang harus ditaati dan diamalkan oleh setiap muslim. Di dalamnya termuat masalah-masalah halal haram, serta amar ma’ruf nahi munkar. Al-Qur’an juga  sebagai sumber inspirasi sastra  dan akhlak. Di situ, setiap muslim diperintahkan untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip al-Qur’an. Dengan demikian, mereka akan memperoleh kebahagiaan dan petunjuk yang akan mengantarkan mereka di dalam memperoleh keberuntungan di hadapanNya kelak di akhirat.[2]

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban mutlak dan mempunyai kedudukan amal yang lebih tinggi di bandingkan dengan lainnya berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya.
Perintah berbakti kepada kedua orang tua didalam al-Qur’an selalu disandingkan dengan perintah untuk taat kepada allah, mengingat betapa keutamaan dan kedudukan merika dihadapan anak-anaknya, dan titekankannya perintah tersebut agar diperhatikan oleh manusia. Kedudukan mereka yang begitu agung dan besarnya jasa-jasa mereka demi anak-anakn, menjadikan allah membuat sesuatu.
Ketentuan mutlak bahwa anak tidak berbakti atau durhaka kepada mereka, akan dijatuhi hukuman dosa paling besar setelah syirik, dan hukuman ini tidak akan ditangguhkan menuggu saatnya hari kiamat, baik ketika dia didunia ini hukuman tersebut bisa diberlakukan.
Perbuatan berbakti atau durhaka akan membuahkan hasil masing-masing, yang sangat berdampak bagi pelakunya dalam kehidupannya sehari-hari, bahkan sampai di akhirat kelak dampak perbuatan tersebut akan dirasakan oleh pelakunya. Anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasakn berbagai keuntungan, kebaikan dan keselamatanselamat di dunia ini, sehingga dikatakan bahwa keberhasilann seseorang tergantung bagaimana bentuk baktinya kepada orang tua mereka, sebaliknya, kehancuran hidupnya mencerminkan bagaimana perlakuan buruknya terhadap orang tua, sehingga berbagai kesulitan, ketidak tenangan, bahkan kesengsaraan selalu mewarnai kehidupannya karena tindakan yang selalu menantang, menyakiti, dan melakukan perbuatan-perbutan yang oleh Allah untuk dilakukan kepada orang tuanya.
B.           Rumusan Masalah
Berdasarkan inti latar belakang diatas tentang bagaimana penjelasan ayat tentang bahaya durhaka kepada orang tua maka muncullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.                  Apa pengertian durhaka?
2.                  Bagaimana penjelasan ayat tentang durhaka kepada orangtua?
3.                  Hikmat apa yang dapat kita ambil pada ayat ini?





BAB II
PEMBAHASAN
A.          Pengertia Durhaka
Bakti (dalam bahasa arab disebut birrun) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbua baik kepada kepada mereka memenuhi hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal yang wajib atay maksiat.
Adapu lawan kata bakti adalah durhaka. Durhaka kepada orang tua adalah berbuat buruk kepada mereka dan menyia-nyiakan hak mereka. Secara bahasa kata al-‘uquuq (durhaka) bersal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qath’u (memutus, merobek, memotong, membelah). Adapu menurut syara’ durhaka adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya.[3]
B.           Teks Ayat Tentang Bahaya Durhaka Kepada Orang Tua.

4Ó|Ós%u y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ [4]

Terjemannya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.
1.      Syarah mufradat
a.       ولدين
Berasal dari kata ولد-يولد-ولاده kata walad dengan segala derivasinya disebutkan sebanyak 102 kali dalam al-Qur’an dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan bentuknya. Kata ini disebutkan 93 kali dalam bentuk isim atau kata benda dan hanya 9 kali dalam bentuk fi’l kemudian dalam bentuk kata benda disebutkan sabanyak 93 kali. Kata ini memiliki arti aya ibu.[5]
b.      الكبير
Terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf kaf, ba, dan ra’ yang berarti antonikm kecil. Dalam al-Qur’an kata ini terulang sebanyak 40 kali dalam berbagai konteks beruba, larangan dan adil[6]
c.       تنحر
Yang berasal dari asal kata نهر-ينهر-نهرا yang bermakna darah, mengalir, menyembur. Nahar pada kita ini di artikan sebagai, tempat mengalirnya air yang melimpah.[7]
d.      كربما
Kata كريم berasal dari kata كرم-يكرم kata كرم karama terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf, ka>f, ra>’ dan mi>m. yang didala kamus besar bahasa Arab mengandung makna, kemuliaan, bernilai tinggi, terhormat, setia dan kebangsawanan. Dala al-Qur’an kata kari>m ditemukan sebanyak 27 kali, yakni 23 kali kata kari>m, dan empat kali kata kari>ma.[8]
C.   Penjelasan Ayat
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain dia. Ini merupakan perintah untuk mengesakan allah dalam penyembahan sesudah larangan berlaku syirik. Perintah yang digunakan dengan gaya keputusan; perintah yang bersifat niscaya seperti keniscayaan sebuah keputusan pengadilan. Kata قضى pada ayat ini memberikan pada perintah yang ada berupa penekanan, disamping penekanan khusus atas masalah ini, yang dapat dilihat pada kata nafi (peniadaan) dan istisnaa ‘pengecualian’, kemudian pada kata الاتعبدوا الااياه . dengan begitu, tampak jelas pada ungkapan ayat ini nuansa keseriusan dan penekanan masalah tauhid ini dalam kehidupan.[9]
Ayat ini dimulai dengan menegaskan ketetapan yang merupakan perintah Allah swt. Untuk mengesakan allah dalam beribadah, mengikhlaskan diri dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini karna ayat al-Isra>’ di atas ditunjukan kepada kaum muslim.
Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu.yakni allah memerintahkan kepadamu untuk berbuat baik kepada ibu bapakmu.[10] Al-Qur’an menggunakan kata احسانا untuk dua hal. Pertama, memberikan nikmat kepada pihak lain dan yang kedua, perbuatan baik, karna itu ih}sa>n, lebih luas dari sekedar memberi nikmat atau nafkah.[11]
Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, yakni bertutur sapa yang baik dan lemah lembutlah kepada keduanya, serta bersopan santunlak kepada keduanya dengan perasaan yang penuh hormat dan memuliakannya.[12] Kata كريما kari>man biasa diterjemahkan mulia. Bila dikatakan rizqun kari>m maka yang dimaksud adalah rezki yang halal dala perolehan dan pemanfaatannya serta memuaskan dalam kualitas dan kuantitasnya. Bila kata kari>m dikaitkan dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, maka ia bermakna pemanfaatan
Ayat di atas menuntup agar apa yang disampaikan kepada kedua orang tua bukan saja yang benar dan tepat, bukan saja juga yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam suatu masyarakat, tetapi ia juga harus yang terbaik dan termulia, dan kalaupun seandainya orang tua melakukan sesuatu “kesalahan” terhadap anak, maka kesalahan itu harus dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak pernah ada dan terhapus dengan sendirinya) karnna tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya. Demikian makna kari>man yang dipesankan kepada anak dalam menghadapi orang tuanya.[13]
Dalam ayat ini allah menegaskan bahwa jika salah seorang dantara keduanya atau kedua-duannya berumur lanjut atau dalam keadaan lemah sehingga mereka terpaksa berada dalam pemeliharaanmu. Lebih-lebih jika dalam pemeliharaan atau tanggunganmu, maka sekali-kali jangan mengetakan kepada mereka perkataan “ah” atau suara dan kata yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejenuhan, walau sudah banyak dan sebesar apapun pengabdian dan pemeliharaanmu kepadanya. Jangan juga membentak keduanya menyangkut apapun yang mereka lakukan, apalagi melakukan yang lebih buruk daripada membentak. Hendaklah setiap anak mengucapkan kepada kedua orangtuanya ucapan yang mulia karna sesungguhnya[14] yakni baik dalam kandungannya, lembut dalam penyampaiannya, serta sesuai, bukan saja dengan adat masyarakat, tetapi juga sesuai dengan kepribadian ibu bapaknya.[15]
D.  Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Ayat Ini
1.      Kewajiban petama seorang musli adalah menyembah Allah yang maha esa dengan tulus, disusul dengan berbakti kepada kedua orangtua, kendati keduanya non musli.
2.      Penghormatan kepada kedua orang tua harus bersumber dari lubuk hati anak terhadapnya, bukan karna takut malu atau dicela bila tidak menghormatinya.
3.      Anak berkewajiban selalu mendoakan orang tuanya, baik saat hidup mereka, lebih-lebih setelah kematian ibu bapak yang beriman, sambil mengingat jasa keduanya dalam membesarkan dan mendidiknya.[16]


BAB II
PENUTUP
A.          Kesimpulan
1.      Bakti (dalam bahasa arab disebut birrun) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbua baik kepada kepada mereka memenuhi hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal yang wajib atay maksiat.
2.      Maka jangan sekali-kali mengetakan kepada mereka perkataan “ah” atau suara dan kata yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejenuhan
3.      Kewajiban petama seorang musli adalah menyembah Allah yang maha esa dengan tulus, disusul dengan berbakti kepada kedua orangtua.
4.      Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, yakni bertutur sapa yang baik dan lemah lembutlah kepada keduanya, serta bersopan santunlak kepada keduanya dengan perasaan yang penuh hormat dan memuliakannya.



DAFTAR PUSTAKA
Bakar, Ibnu Kasi>r diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu. Tafsir Ibnu Katsier. Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.
Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung : Lubuk Agung, 1989.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maraghi. Cet. 2; Semarang: PT karya Toha Putra Semarang, 1992.
Shihab, M. Quraish. al-Lubab, Makna Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an. Cet. I; Tangerang: Lentera Hati, 2012 M.
                    . Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007.
                    . Quraish. Membumikan al- Quran. Bandung: Mizan, 1995.
                    . Quraish. Tafsi> al-Mishba>h}. Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2005 M/1426 H.
Yasi>n, Sayyid Quthb Diterjemahkan Oleh ‘As’ad dkk. Tafsir fi zhilalil Qur’an di bawah naungan al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Gema Isnsani Prees, 2003.




[1]M. Quraish Shihab,  Membumikan al- Quran  (Bandung: Mizan, 1995), h. 172.
[2]Ahmad Mustafa al-Maragi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid 1 (Cet. 2; Semarang: PT karya Toha Putra Semarang, 1992) h. 3
[4]Departemen agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung : Lubuk Agung, 1989), hal. 285
[5]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 1059 
[6]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007)  h. 412-413.
[7]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 695.
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 427.
[9]Sayyid Quthb Diterjemahkan Oleh ‘As’ad Yasi>n, dkk. Tafsir fi zhilalil Qur’an di bawah naungan al-Qur’an, Jilid VII, (Cet. I; Jakarta: Gema Isnsani Prees, 2003), h. 248.
[10]Ibnu Kasi>r, diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV, (Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.), h. 178.
[11] M. Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}, Jilid. VII, (Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2005 M/1426 H.), h. 443-446.
[12]Ibnu Kasi>r, diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV, h. 178.
[13] Ibnu Kasi>r, Diterjemahkan Oleh Bahrun Abu Bakar Dan Anwar Abu Bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV, h. 179.
[14]Ridha allah itu terletak pada ridha orang tua, dan murka allah terletak pada murka orang tua.
[15]M. Quraish Shihab, al-Lubab, Makna Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an. Jilid II. (Cet. I; Tangerang: Lentera Hati, 2012 M), h. 225-226.
[16]M. Quraish Shihab, al-Lubab, Makna Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an. Jilid II, h. 227.

1 komentar:

The 15 best casino hotels in Las Vegas - MapYRO
A map 김제 출장안마 showing casinos and other gaming 양주 출장안마 facilities located in Las Vegas, including Hard 안성 출장샵 Rock Hotel & 익산 출장안마 Casino, Hard Rock Hotel 포천 출장마사지 & Casino,

Posting Komentar