BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an adalah wahyu
Allah dengan kebenaran mutlak yang menjadi sumber ajaran Islam.[1]
Al-Qur’an
adalah undang-undang syari’at dan sumber hukum, yang harus ditaati dan
diamalkan oleh setiap muslim. Di dalamnya termuat masalah-masalah halal haram,
serta amar ma’ruf nahi munkar. Al-Qur’an juga
sebagai sumber inspirasi sastra
dan akhlak. Di situ, setiap muslim diperintahkan untuk berpegang teguh
pada prinsip-prinsip al-Qur’an. Dengan demikian, mereka akan memperoleh kebahagiaan
dan petunjuk yang akan mengantarkan mereka di dalam memperoleh keberuntungan di
hadapanNya kelak di akhirat.[2]
Berbakti kepada orang tua merupakan
kewajiban mutlak dan mempunyai kedudukan amal yang lebih tinggi di bandingkan
dengan lainnya berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya.
Perintah berbakti
kepada kedua orang tua didalam al-Qur’an selalu disandingkan dengan perintah
untuk taat kepada allah, mengingat betapa keutamaan dan kedudukan merika
dihadapan anak-anaknya, dan titekankannya perintah tersebut agar diperhatikan
oleh manusia. Kedudukan mereka yang begitu agung dan besarnya jasa-jasa mereka
demi anak-anakn, menjadikan allah membuat sesuatu.
Ketentuan mutlak
bahwa anak tidak berbakti atau durhaka kepada mereka, akan dijatuhi hukuman dosa
paling besar setelah syirik, dan hukuman ini tidak akan ditangguhkan menuggu
saatnya hari kiamat, baik ketika dia didunia ini hukuman tersebut bisa
diberlakukan.
Perbuatan berbakti
atau durhaka akan membuahkan hasil masing-masing, yang sangat berdampak bagi
pelakunya dalam kehidupannya sehari-hari, bahkan sampai di akhirat kelak dampak
perbuatan tersebut akan dirasakan oleh pelakunya. Anak yang berbakti kepada
kedua orang tuanya akan merasakn berbagai keuntungan, kebaikan dan
keselamatanselamat di dunia ini, sehingga dikatakan bahwa keberhasilann
seseorang tergantung bagaimana bentuk baktinya kepada orang tua mereka,
sebaliknya, kehancuran hidupnya mencerminkan bagaimana perlakuan buruknya
terhadap orang tua, sehingga berbagai kesulitan, ketidak tenangan, bahkan
kesengsaraan selalu mewarnai kehidupannya karena tindakan yang selalu
menantang, menyakiti, dan melakukan perbuatan-perbutan yang oleh Allah untuk
dilakukan kepada orang tuanya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan inti latar belakang
diatas tentang bagaimana penjelasan ayat tentang bahaya durhaka kepada orang
tua maka muncullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.
Apa pengertian durhaka?
2.
Bagaimana penjelasan ayat tentang
durhaka kepada orangtua?
3.
Hikmat apa yang dapat kita ambil
pada ayat ini?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertia Durhaka
Bakti (dalam bahasa
arab disebut birrun) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbua baik kepada kepada mereka
memenuhi hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal
yang wajib atay maksiat.
Adapu lawan kata
bakti adalah durhaka. Durhaka kepada orang tua adalah berbuat buruk kepada
mereka dan menyia-nyiakan hak mereka. Secara bahasa kata al-‘uquuq
(durhaka) bersal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qath’u (memutus,
merobek, memotong, membelah). Adapu menurut syara’ durhaka adalah setiap
perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya.[3]
B.
Teks Ayat Tentang Bahaya Durhaka
Kepada Orang Tua.
4Ó|Ós%u y7/u wr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$Î) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7t x8yYÏã uy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdxÏ. xsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& wur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJÌ2 ÇËÌÈ [4]
Terjemannya:
Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah
seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
Perkataan yang mulia.
1. Syarah
mufradat
a.
ولدين
Berasal dari kata ولد-يولد-ولاده
kata walad dengan segala derivasinya disebutkan sebanyak 102 kali dalam
al-Qur’an dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan bentuknya. Kata ini
disebutkan 93 kali dalam bentuk isim atau kata benda dan hanya 9 kali dalam
bentuk fi’l kemudian dalam bentuk kata benda disebutkan sabanyak 93 kali. Kata
ini memiliki arti aya ibu.[5]
b.
الكبير
Terambil dari akar kata
yang terdiri dari huruf-huruf kaf, ba, dan ra’ yang berarti
antonikm kecil. Dalam al-Qur’an kata ini terulang sebanyak 40 kali dalam
berbagai konteks beruba, larangan dan adil[6]
c.
تنحر
Yang berasal dari
asal kata نهر-ينهر-نهرا
yang bermakna darah, mengalir, menyembur. Nahar pada kita ini di artikan
sebagai, tempat mengalirnya air yang melimpah.[7]
d.
كربما
Kata كريم berasal dari kata كرم-يكرم kata كرم
karama
terambil
dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf, ka>f, ra>’ dan mi>m.
yang didala kamus besar bahasa Arab mengandung makna, kemuliaan, bernilai
tinggi, terhormat, setia dan kebangsawanan.
Dala
al-Qur’an kata kari>m ditemukan sebanyak 27 kali, yakni 23 kali kata kari>m,
dan empat kali kata kari>ma.[8]
C. Penjelasan
Ayat
Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain dia. Ini merupakan
perintah untuk mengesakan allah dalam penyembahan sesudah larangan berlaku
syirik. Perintah yang digunakan dengan gaya keputusan; perintah yang bersifat
niscaya seperti keniscayaan sebuah keputusan pengadilan. Kata قضى pada ayat ini memberikan pada perintah
yang ada berupa penekanan, disamping penekanan khusus atas masalah ini, yang
dapat dilihat pada kata nafi (peniadaan) dan istisnaa ‘pengecualian’,
kemudian pada kata الاتعبدوا
الااياه
. dengan begitu, tampak jelas pada ungkapan ayat ini nuansa keseriusan dan
penekanan masalah tauhid ini dalam kehidupan.[9]
Ayat ini dimulai
dengan menegaskan ketetapan yang merupakan perintah Allah swt. Untuk mengesakan
allah dalam beribadah, mengikhlaskan diri dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini
karna ayat al-Isra>’ di atas ditunjukan kepada kaum muslim.
Dan hendaklah kamu
berbuat baik kepada ibu bapakmu.yakni allah memerintahkan kepadamu
untuk berbuat baik kepada ibu bapakmu.[10] Al-Qur’an
menggunakan kata احسانا
untuk dua hal. Pertama, memberikan nikmat kepada pihak lain dan yang kedua,
perbuatan baik, karna itu ih}sa>n, lebih luas dari sekedar memberi
nikmat atau nafkah.[11]
Dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia, yakni bertutur sapa yang baik dan lemah
lembutlah kepada keduanya, serta bersopan santunlak kepada keduanya dengan
perasaan yang penuh hormat dan memuliakannya.[12] Kata كريما kari>man biasa
diterjemahkan mulia. Bila dikatakan rizqun kari>m maka yang
dimaksud adalah rezki yang halal dala perolehan dan pemanfaatannya serta
memuaskan dalam kualitas dan kuantitasnya. Bila kata kari>m dikaitkan
dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, maka ia bermakna pemanfaatan
Ayat di atas
menuntup agar apa yang disampaikan kepada kedua orang tua bukan saja yang benar
dan tepat, bukan saja juga yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam
suatu masyarakat, tetapi ia juga harus yang terbaik dan termulia, dan kalaupun
seandainya orang tua melakukan sesuatu “kesalahan” terhadap anak, maka
kesalahan itu harus dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak
pernah ada dan terhapus dengan sendirinya) karnna tidak ada orang tua yang
bermaksud buruk terhadap anaknya. Demikian makna kari>man yang
dipesankan kepada anak dalam menghadapi orang tuanya.[13]
Dalam ayat ini allah
menegaskan bahwa jika salah seorang dantara keduanya atau kedua-duannya berumur
lanjut atau dalam keadaan lemah sehingga mereka terpaksa berada dalam
pemeliharaanmu. Lebih-lebih jika dalam pemeliharaan atau tanggunganmu, maka
sekali-kali jangan mengetakan kepada mereka perkataan “ah” atau suara dan kata
yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejenuhan, walau sudah banyak
dan sebesar apapun pengabdian dan pemeliharaanmu kepadanya. Jangan juga
membentak keduanya menyangkut apapun yang mereka lakukan, apalagi melakukan
yang lebih buruk daripada membentak. Hendaklah setiap anak mengucapkan kepada
kedua orangtuanya ucapan yang mulia karna sesungguhnya[14]
yakni baik dalam kandungannya, lembut dalam penyampaiannya, serta sesuai, bukan
saja dengan adat masyarakat, tetapi juga sesuai dengan kepribadian ibu
bapaknya.[15]
D. Pelajaran
Yang Dapat Dipetik Dari Ayat Ini
1.
Kewajiban petama seorang musli adalah
menyembah Allah yang maha esa dengan tulus, disusul dengan berbakti kepada
kedua orangtua, kendati keduanya non musli.
2.
Penghormatan kepada kedua orang tua
harus bersumber dari lubuk hati anak terhadapnya, bukan karna takut malu atau
dicela bila tidak menghormatinya.
3.
Anak berkewajiban selalu mendoakan
orang tuanya, baik saat hidup mereka, lebih-lebih setelah kematian ibu bapak
yang beriman, sambil mengingat jasa keduanya dalam membesarkan dan mendidiknya.[16]
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Bakti
(dalam bahasa arab disebut birrun) adalah kata yang mencakup kebaikan dunia dan
akhirat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbua baik kepada kepada
mereka memenuhi hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan
hal-hal yang wajib atay maksiat.
2. Maka
jangan sekali-kali mengetakan kepada mereka perkataan “ah” atau suara dan kata
yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejenuhan
3. Kewajiban
petama seorang musli adalah menyembah Allah yang maha esa dengan tulus, disusul
dengan berbakti kepada kedua orangtua.
4. Dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, yakni bertutur
sapa yang baik dan lemah lembutlah kepada keduanya, serta bersopan santunlak
kepada keduanya dengan perasaan yang penuh hormat dan memuliakannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Bakar,
Ibnu Kasi>r diterjemahkan oleh bahrun abu bakar dan anwar abu. Tafsir
Ibnu Katsier. Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.
Departemen agama RI, Al-Quran dan
Terjemahnya. Bandung : Lubuk Agung, 1989.
Al-Maragi,
Ahmad Mustafa. Terjemah Tafsir al-Maraghi. Cet. 2; Semarang: PT karya
Toha Putra Semarang, 1992.
Shihab,
M. Quraish. al-Lubab, Makna Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an.
Cet. I; Tangerang: Lentera Hati, 2012 M.
.
Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Cet. I; Jakarta: Lentera Hati,
2007.
. Quraish. Membumikan
al- Qur‟an. Bandung: Mizan, 1995.
.
Quraish. Tafsi> al-Mishba>h}. Cet. III; Jakarta: Lentera Hati,
2005 M/1426 H.
Yasi>n,
Sayyid Quthb Diterjemahkan Oleh ‘As’ad dkk. Tafsir fi zhilalil Qur’an di
bawah naungan al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Gema Isnsani Prees, 2003.
[2]Ahmad Mustafa
al-Maragi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, jilid 1 (Cet. 2; Semarang: PT
karya Toha Putra Semarang, 1992) h. 3
[5]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Juz. III (Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2007),
h. 1059
[6]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007) h. 412-413.
[7]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 695.
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 427.
[9]Sayyid Quthb Diterjemahkan Oleh
‘As’ad Yasi>n, dkk. Tafsir fi zhilalil Qur’an di bawah naungan al-Qur’an,
Jilid VII, (Cet. I; Jakarta: Gema Isnsani Prees, 2003), h. 248.
[10]Ibnu Kasi>r, diterjemahkan
oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV,
(Cet. I; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000 M.), h. 178.
[11] M. Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}, Jilid. VII, (Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2005 M/1426
H.), h. 443-446.
[12]Ibnu Kasi>r, diterjemahkan
oleh bahrun abu bakar dan anwar abu bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV,
h. 178.
[13] Ibnu Kasi>r, Diterjemahkan
Oleh Bahrun Abu Bakar Dan Anwar Abu Bakar, Tafsir Ibnu Katsier, Juz. XV,
h. 179.
[14]Ridha allah itu terletak pada
ridha orang tua, dan murka allah terletak pada murka orang tua.
[15]M. Quraish Shihab, al-Lubab, Makna
Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an. Jilid II. (Cet. I;
Tangerang: Lentera Hati, 2012 M), h. 225-226.
[16]M. Quraish Shihab, al-Lubab, Makna
Tujuan Dan Pelajaran Dari Surah-Surah Al-Qur’an. Jilid II, h. 227.







1 komentar:
The 15 best casino hotels in Las Vegas - MapYRO
A map 김제 출장안마 showing casinos and other gaming 양주 출장안마 facilities located in Las Vegas, including Hard 안성 출장샵 Rock Hotel & 익산 출장안마 Casino, Hard Rock Hotel 포천 출장마사지 & Casino,
Posting Komentar