BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Al-Qur’an
merupakan sebuah kitab yang di dalamnya tidak terdapat keraguan, kitab yang
merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad saw Ia berfungsi untuk memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi
manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.[1] Hal ini di sebabkan karena di dalam
Al-Qur’an menghimpun segala aspek kehidupan. Bagaimana seharusnya manusia
bersikap, bagaiman hukum yang seharusnya diterapkan, dengan kata lain Al-Qur’an
menghimpun apa yang di perintahkan dan apa yang telah di larang oleh Allah swt,
Betapa banyak orientalis-orientali yang
berusaha untuk mencari kelemahan dan ingin menandingi kitab suci Al-Qur’an ini,
namu pada ahirnya mereka tidak mampu menemukan kelemahan-kelemahan itu, allah
sendiri mengatakan di dalam Al-Qur’an surah al-isra’ ayat 88:
@è% ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ß§RM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù't È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# w tbqè?ù't ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ öqs9ur c%x. öNåkÝÕ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 #ZÎgsß ÇÑÑÈ
Terjemahanya:
Katakanlah
sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran
ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun
sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.[2]
Dalam kaitan ini kemudian dapat dipahami bahwa
al-Qur’an dan tafsirannya dua entitas yang berbeda, karena eksitensi yang
pertama tidak dapat digantikan yang kedua, begitu pula sebaliknya. Mekipun
al-Qur’an berbeda dengan tafsirannya, tetapi hubungan antara kedunya sangat
lekat, lebih karena eksitensi kedua bergantungan pada eksitensi yang pertama,
dan tidak sebaliknya. Hal inilah yang sering kali menyebabkan kaum muslimin
kehilangan kesadaran untuk membedakan antara kedunya, dan sebaliknya mereka
cenderung memandang kedunya sebagai sesuatu yang sama begitu saja.[3]
Betapabanyak
perintah dan seruan allah untuk melakukan perintah dan larangan-Nya sebagai
Rabb dan hanya sedikit dari manusia yang melakukan perintah tersebut dan segala
apa yang di kerjakan oleh mereka itu semuanya akan menjadi penyesalan pada hari
kemudian khususnya bagi para orang-orang kafir. Seperti dalam redaksi Al-Quran
surat-surat al-mu’min ayat 14-15 ini, yang mana ayat ini berisikan tentang
penyesalan orang-orang kafir. Surat ini termasuk surat Makiyyah sebab sebagian
besar ayat-ayatnya diturunkan di Mekkah sebelum hijrah. Surat
Al-Mu’min/Ga>fi>r ini yang terdiri dari 85 ayat, surat
ini memiliki beberapa nama di antaranya. Al-Mu’min, Al-Ga>fi>r, At-Tawl. Dinamakan
surat Al-Mu’min karena nama Al-Mu'min
(Arab:المؤمن ) diperoleh dari hadits nabi[4] yang menyebutnya sebagai surah Ha Mim Al-Mu'min dengan diawali
huruf Ha Mim. Hal
ini digunakan untuk membedakannya dengan surah lain yang dimulai dengan ayat Mutasyabihat Ha Mim
yang sama seperti surah As-Sajdah yang juga
disebut Ha Mim As-Sadjah. Selain itu, kata Al-Mu'min yang berarti
"Laki-Laki Yang Beriman" merujuk pada kisah seorang laki-laki beriman
yang terdapat dalam ayat 28 surah ini. Ia
merupakan pengikut Fir'aun dan seorang Qibti. Namun, ia menyembunyikan keimanannya.
Hingga suatu hari ia menerima dakwah Musa dan membelanya. Orang ini dijelaskan Al-Quran sebagai orang
yang membela dakwah. Ada beberapa pendapat mengenai siapa nama orang ini. Dalam
Tafsir Ibnu Katsir, ia adalah “Habib”.[5] At-Tabari berpendapat
bahwa ia adalah “Khair”. Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa ia adalah
“Hazbil” atau “Hazfil”. Dan ada juga yang menyebutnya “Syam'an”.[6] Sedangkan
dikatakan nama Ghafir (Arab:غافر) diambil
dari ayat ke-3 surah ini yang di dalamnya terdapat kata Ghafir. Kata Ghafir
juga merupakan salah satu sifat Allah yang artinya
“Mengampuni”. Sedangkan nama At-Tawl juga diambil dari ayat ke-3 dari kata Zit
Tawl yang terdapat di akhir ayat. At-Tawl memiliki arti “Mempunyai
Karunia Yang Tidak Putus.”
Dalam makalah
ini penulis akan membahas tentang masalah penyesalan orang-orang kafir
berdasarkan QS. Al-Mu’min ayat 14-15
sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir
tidak menyukai(nya).
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
inti latar belakang diatas tentang bagaimana penjelasan surah al-Mu’min maka
muncullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.
Bagaimana teks ayat serta terjemahan
dari QS. Al-Ga>fi>r ayat 14-15?
2.
Bagaimana Syarah Mufradat dari QS.
Al-Ga>fi>r ayat 14-15?
3.
Bagaimana Syarah ayat 14-15 QS. Al-Ga>fi>r?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teks
dan Terjemahan QS. Al-Mu’min ayat 14-15
(#qãã÷$$sù ©!$# úüÅÁÎ=÷ãB çms9 tûïÏe$!$# öqs9ur onÌx. tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÊÍÈ ßìÏùu ÏM»y_u¤$!$# rè ĸöyèø9$# Å+ù=ã yyr9$# ô`ÏB ¾ÍnÌøBr& 4n?tã `tB âä!$t±o ô`ÏB ¾ÍnÏ$t7Ïã uÉYãÏ9 tPöqt É-xG9$# ÇÊÎÈ [7]
Terjemahan:
14. Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya) 15.
(Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang mempunyai 'Arsy, yang mengutus
Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya, supaya Dia memperingatkan (manusia) tentang hari
Pertemuan (hari kiamat).
B.
Syarah Mufradat QS. An-Nisa>’
ayat 155
1.
ٱللَّهَ
Allah adalah nama Tuhan
yang paling popular. Para ulama berbeda pendapat menyangkut lafal mulia ini,
apakah ia termasuk al asma>’ al h{usna atau tidak. Banyak ulama yang
berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah Ila>h yang dibubuhi
dengan Alif dan Lam. Dengan demikian Allah merupakan nama khusus yang tidak
dikenal bentuk jamaknya. Para ulama mengartikan Ila>h dengan “yang
disembah”, menegaskan bahwa Ila>h adalah segala sesuatu yang
disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh agama Islam maupun yang
dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni dzat yang wajib wujud-Nya, Allah
swt. karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan La> Ila>ha Illa>
Alla>h maka dia telah menafikan segala tuhan, kecuali Tuhan yang nama-Nya
“Allah.”[8]
2. مُخْلِصِينَ
Ada 31 ayat al-qur’an yang menyebut
dan berkaitan dengan kata mukhlish (مُخْلِصِ) dengan berbagai perubahan bentunya, seperti kha>lis,
kha>lishah, mukhlash, mukhlisi>n, dan mukhlashi>n. Mukhlish berasal
dari kata (اخلص-يخلص-اخلاصا), yang secara bahasa berarti ‘yang tulus’ ‘yang
jujur’ yang murni’ ‘yang bersih’ dan ‘yang jernih’. Di dalam al-qur’an, kata mukhlish pada dasarnya
mengacu pada arti ketulusan atau kemurnian hati seseorang didalam beramal.[9]
3. ٱلْكَٰفِرُونَ
Kata ka>fir
merupakan isim fa>’il (kata pelaku) dari كفر-يكفر-كفر didalam
al-qur’an, kata ka>fir dan yang seasal dengannya disebut 525 kali. Secara
bahasa Al-‘As}faha>ni> dan Ibn Manz\ur memaknainya dengan “menutupi” dan
“menyembunyikan”. Malam hari disebut ka>fir karena ia menutupi siang atau
tersembunyinya sesuatu oleh kegelapannya. Begitupula dengan awan disebut
ka>fir karena ia dapat menutupi dan menyembunyikan cahaya matahari.[10] Kata kufr
yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang menutup hatinya untuk
menerima kebenaran. Adapun kata “him” disini menunjuk kepada orang-orang yang
melanggar perjanjian.
4.
رَفِيعُ
Kata (رَفِيعُ) rafi’ disini dapat berarti yang maha
tinggi – dan jika demikian ia berbicara tentang allah, bukan dari sisi
keterkaitan-Nya dengan mahluk. Allah adalah wujud yang maha tinggi, bahkan
setinggi-tinggi wujud dalam segala sifat keagungan-Nya.[11]
Sifat allah al-rafi’ dan al-khafidh dipahami
oleh imam al-ghazali dalam arti “dia yang merendahkan orang-orang kafir dengan
kesengsaraan dan neraka, serta meninggikan orang-orang mukmin dengan
kebahagiaan dan surga. Dia pula yang meniggikan auwliya>’ –Nya dengan
kedekatan kepada-Nya serta merendahkan musuh-musuh-Nya dengan kejauhan dari
hadirat-Nya.[12]
5.
ٱلرُّوحَ
Kata (رُّوحَ)
merupakan salah satu
kata turunan dari akar kata ra’ ,waw, dan h}a’. Dari akar kata
tersebut terbentuk kata kerja masa lampau, ra>h}a (راح (. Kata kerja tersebut mempunyai bentuk kata kerja masa kini (fa’l
mudha>ri’) dan mashdar. Perbedaan bentuk mudha>ri’ dan mashdar
itu berakibat pada perbedaan makna.
Kata ru>h} dalam al-qur’an disebut
21 kali. Empat diantaranya dalam kata majemuk ru>h}ul-qudus (روح القدس );
satu kali dalam kata ar-ru>h}ul-ami>n
( الروح الامين); dan dengan kata ru>h} selebihnya sebanyak 16 kali. Di dalam
al-qur’an, kata ru>h} mengandung banyak pengertian. Di antaranya
adalah roh ciptaan allah yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia; ada yang berarti ‘wahyu’; oleh karna itu,
Al-Qur’an dapat juga disebut ru>h}. ada pula yang berarti malaikat.[13]
6.
مِنْ
Kata مِنْ min pada kalimat من امره min amrihi ada yang memahaminya dalam arti dengan, yakni mencampakkan
ruh denga atau atas perintah-Nya. Ada juga yang memahami kata min dalam
arti sebagian dan kata amr dalam arti urusan, sehingga ia
berarti allah mencampakkan ruh atas hamba-Nya, ruh tersebut merupakan sebagian
dari urusan-Nya.[14]
7.
شَآءُ
Kata sya>a dalam kamus
Bahasa Arab adalah merupakan salah satu bentuk fi‘il ma>d}i> dari
kata sya>a-yasya>u-syaian-masyi>atan yang memiliki makna
menghendaki atau dengan kata lain mentakdirkan.[15]
Kata sya>a yang disertai
dengan bentuk lain dari kata tersebut terulang dalam al-Qur’a>n sebanyak 518
kali.[16]
8.
يَوْمَ
Secara harfiah, kata يوم berarti
‘hari’, yang berdurasi 24 jam. Jika kata yau>m diperhadapkan dengan kata
lail maka menurut batasan umum, yang disebut yau>m adalah waktu dari terbit
matahari hingga terbenamnya. Namun, ada juga yang menyebut batasannya dari
mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, sesuai dengan batasan waktu sehari
untuk ibadah puasa. Bentuk jamaknya adalah ayya>m dan aya>wi>m. hanya
bentuk jamak ayya>m yang digunakan dalam al-Qur’an.
Jika dinyatakan dengan اليوم, dimaksudkan untuk waktu pada hari ini. Selain itu, kata يوم dapat diikuti dengan kata
إذ
yang
digabung menjadi يوم إذٍ, yang
berarti pada hari itu atau pada waktu itu. Dalam al-Qur’an, kata يوم yang berbentuk mufrad tersebut sebanyak
365 kali, dalam bentuk mus\anna> tersebut sebanyak 3 kali, dan dalam bentuk
jamak tersebut sebanyak 27 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 405 kali.[17]
9.
ٱلتَّلَاقِ
Kata ٱلتَّلَاقِ at-tala>qi terambil dari kata (لقي) laqiya yang berarti bertemu, yang dimaksud dengan (يوم التلاق) yaum at-tala>qi adalah hari kiamat, karena itu manusia
akan menemui buah amalnya, atau akan “bertemu” dengan tuhan dalam arti akan di
adili oleh-Nya, atau makhluk akan bertemu satu sama lain di padang mahsyar di
mana yang menganiaya akan bertemu dengan yang dianiaya.[18]
C.
Munasabah ayat
Pada ayat-ayat yang lalu, allah
menerangkan bahwa orang-orang mukmin di akhirat akan memperoleh berbagai
fasilitas dan kemudahan, di antaranya akan memperoleh do’a dan permohonan ampun
dari para malaikat. Pada ayat-ayat berikut ini, allah menerangkan bahwa
orang-orang kafir pada hari kiamat mengakui dosa-dosa mereka, dan meminta agar
dikembalikan ke dunia untuk berbuat baik. Kemudian allah menerangkan
kesempurnaan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, dan sesungguhnya dia tidak
memerlukan sesuatu yang lain daripada-Nya. Juga dijelaskan bahwa dia menurunkan
wahyau kepada hamba-Nya yang dikehendaki untuk memberi peringatan dengan azab
nanti di hari kiamat.[19]
D. Kandungan
Ayat
Kandungan ayat 14 dari surah al-mu’min. Ayat ini pula
yang diperingatkan di akhir ayat 2 dan ayat 3 dari surat 39, az-zumar. Segala
gerak keagamaan hendaklah mukmin, bersih, tidak ada catatan barang sedikitpun,
hanya tertuju kepada allah sahaja. Akidah (kepercayaan), ibadah (perhambaan
atau persembahan), syariah (peraturan dan tetacara) yang dilakukan hendaklah
murni, ikhlas kepada allah. Dengan kalimat mukhlisina yang berarti
orang-orang yang berhati jujur, murni. Maka berjumpalah kata ikhlas
kalimat ikhlas sama artinya tauhid, yang berarti menyatukan fikiran,
menyatukan tujuan kepada allah sahaja. Surat:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ
Terjemahannya:
Katakanlah:
"Dia-lah Allah, yang Maha Esa.[20]
Tha>hir ibn ‘A>syu>r memahami ayat ini tertuju
kepada kaum mukmin. Salah satu yang menguatkannya menurutulama itu adalah
penutup ayat ini yang memerintahkan untuk memurnikan ketaatan kepada allah
walau orang-orang kafir tidak senang. Sedangkan Thaba>thaba>’I
memahaminya tertuju kepada yang mukmin dan kafir, kecuali penutup ayat ini. Menurutnya
ayat ini bagaikan menyatakan: “kalau ayat-ayat allah yang terhampar membuktikan
keesaan-Nya dan sifat-Nya sebagai penganugerah rezki, maka hendaklah
orang-orang yang bukan termasuk orang kafir serta tidak mendebat kebenarannya
hendaklah mereka menyembah Allah swt dan memurnikan ketaatan kepada-Nya,
walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.[21]
Kandugan ayat 15 (Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya) maksudnya, Allah Maha Agung sifat-sifat-Nya, atau
Dialah Yang mengangkat derajat orang-orang yang beriman di surga (Yang
mempunyai Arasy) Yang menciptakannya (Yang menurunkan Ar-Ruuh) yakni
wahyu atau firman-Nya (kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya
dia memperingatkan) maksudnya, orang yang menerima wahyu itu diperintahkan
untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia (tentang hari pertemuan)
dapat dibaca At-Talaaqi atau At-Talaaqiy dengan memakai huruf Ya. Yakni hari
kiamat, karena pada hari itu penduduk langit dan penduduk bumi bertemu, dan
bertemu pula antara Yang Disembah dan yang menyembah, sebagaimana dipertemukan
pula antara orang yang aniaya dan orang yang dianiaya.[22]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma>wardi>,
Abu>
al-h}asan. An-Nakt wa al 'Uyu>n, t.th.
Tibi, Bassam. Islam
and the Cultural Accomedation of Sosial Change. San Francisco: Westview,
1991.
Departemen agama RI. Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung :
Lubuk Agung, 1989.
. Al-Qur’an
dan Tafsirnya, edisi yang disempurnakan. Cet. I; Jakarta: departemen agama
RI, 1428 H/2007 M.
Haq, Hamka. Tafsi>r al-Azhar, Jakarta: pustaka
panjimas, 1982 M.
Shihab, M. Quraish. Membumikan
al- Qur‟an. Bandung: Mizan,
1995.
. Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata. Cet I; Jakarta: lentera hati, 2007.
. Tafsi>
al-Mishba>h}. Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007 M/1428 H.
Yunus, Mahmud. Kamus
Arab Indonesia. Jakarta: PT Mahmud Yunus wa Dzurriyyah, 2010.
Abdu
al-Ba>qi>, Muh}ammad Fuwa>di. Al-Mu‘jam al-Mufahras li alfa>z}
al-Qur’a>n al-kari>m. Kairo: Da>r al-kutub al-Mis}riyah, 1364 H.
Al-suyu>ti,
Jala>l al-di>n
muh}ammad bin ah}mad al-mah}alli> wa
jala>l al-di>n ‘abdu al-rah}man bin abi> bakar al-suyu>ti>. Tafsi>r al-jala>lain. Al-qa>hirah:
da>r al-h}adi>ts\ t.th.
[3]Dalam konteks yang berbeda,
kecenderungan semacam ini juga diakui oleh Bassam Tibi. Lebih lanjut baca
Bassam Tibi, Islam and the Cultural Accomedation of Sosial Change (San
Francisco: Westview, 1991), h. 23.
[4]
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Orang yang membaca ayat Kursi dan awal ayat surah Ha Mim
Al-Mu'min, dilindungi pada hari kiamat dari pertanyaan. (HR At-Tirmizi,
Al-Baihaqi dan Ad-Darimi)
[5] Abu> al-h}asan al-Ma>wardi>, An-Nakt wa al 'Uyu>n. Juz V
(t.th), hal. 152.
[6] Kitab
At-Ta'rif wal i'lam. hal. 131 dan 151.
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007) h.
75-77
[9] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 635
[11] M. Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}, Jilid. I, (Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007 M/1428
H.), 299.
[12] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz III, h. 808
[13]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia
Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz III; h. 416 839-840
[15]Mahmud Yunus, Kamus Arab
Indonesia, (Jakarta: PT Mahmud Yunus wa Dzurriyyah, 2010), h. 208.
[16]Muh}ammad Fuwa>di abdu
al-Ba>qi>, al-Mu‘jam al-Mufahras li alfa>z} al-Qur’a>n
al-kari>m (Kairo: Da>r al-kutub al-Mis}riyah, 1364 H), h. 391-398.
[17]M. Quraish shihab, Ensiklopedi
al-Qur’an: Kajian Kosakata, Jilid III, h. 1107.
[18] Quraish Shihab, Tafsi>
al-Mishba>h}. h. 301
[19] Departemen agama RI, Al-Qur’an
dan Tafsirnya, (edisi yang disempurnakan). Jilid VIII (Cet. I; Jakarta:
departemen agama RI, 1428 H/2007 M) h. 508-509
[22] Jala>l al-di>n
muh}ammad bin ah}mad
al-mah}alli> wa jala>l al-di>n ‘abdu al-rah}man bin abi> bakar
al-suyu>ti>. Tafsi>r al-jala>lain (al-qa>hirah:
da>r al-h}adi>ts\ t.th) h.619







0 komentar:
Posting Komentar