Kamis, 09 April 2015

Tafsir Surat Mu'min Ayat: 14-15

BAB I
              PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang di dalamnya tidak terdapat keraguan, kitab yang merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad saw Ia berfungsi untuk memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.[1] Hal ini di sebabkan karena di dalam Al-Qur’an menghimpun segala aspek kehidupan. Bagaimana seharusnya manusia bersikap, bagaiman hukum yang seharusnya diterapkan, dengan kata lain Al-Qur’an menghimpun apa yang di perintahkan dan apa yang telah di larang oleh Allah swt,

 Betapa banyak orientalis-orientali yang berusaha untuk mencari kelemahan dan ingin menandingi kitab suci Al-Qur’an ini, namu pada ahirnya mereka tidak mampu menemukan kelemahan-kelemahan itu, allah sendiri mengatakan di dalam Al-Qur’an surah al-isra’ ayat 88:
@è% ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ß§RM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù'tƒ È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# Ÿw tbqè?ù'tƒ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ öqs9ur šc%x. öNåkÝÕ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 #ZŽÎgsß ÇÑÑÈ     
Terjemahanya:
Katakanlah sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.[2]

Dalam kaitan ini kemudian dapat dipahami bahwa al-Qur’an dan tafsirannya dua entitas yang berbeda, karena eksitensi yang pertama tidak dapat digantikan yang kedua, begitu pula sebaliknya. Mekipun al-Qur’an berbeda dengan tafsirannya, tetapi hubungan antara kedunya sangat lekat, lebih karena eksitensi kedua bergantungan pada eksitensi yang pertama, dan tidak sebaliknya. Hal inilah yang sering kali menyebabkan kaum muslimin kehilangan kesadaran untuk membedakan antara kedunya, dan sebaliknya mereka cenderung memandang kedunya sebagai sesuatu yang sama begitu saja.[3]
Betapabanyak perintah dan seruan allah untuk melakukan perintah dan larangan-Nya sebagai Rabb dan hanya sedikit dari manusia yang melakukan perintah tersebut dan segala apa yang di kerjakan oleh mereka itu semuanya akan menjadi penyesalan pada hari kemudian khususnya bagi para orang-orang kafir. Seperti dalam redaksi Al-Quran surat-surat al-mu’min ayat 14-15 ini, yang mana ayat ini berisikan tentang penyesalan orang-orang kafir. Surat ini termasuk surat Makiyyah sebab sebagian besar ayat-ayatnya diturunkan di Mekkah sebelum hijrah. Surat Al-Mu’min/Ga>fi>r ini yang terdiri dari 85 ayat, surat ini memiliki beberapa nama di antaranya. Al-Mu’min, Al-Ga>fi>r, At-Tawl. Dinamakan surat Al-Mu’min  karena  nama Al-Mu'min (Arab:المؤمن ) diperoleh dari hadits nabi[4] yang menyebutnya sebagai surah Ha Mim Al-Mu'min dengan diawali huruf Ha Mim. Hal ini digunakan untuk membedakannya dengan surah lain yang dimulai dengan ayat Mutasyabihat Ha Mim yang sama seperti surah As-Sajdah yang juga disebut Ha Mim As-Sadjah. Selain itu, kata Al-Mu'min yang berarti "Laki-Laki Yang Beriman" merujuk pada kisah seorang laki-laki beriman yang terdapat dalam ayat 28 surah ini. Ia merupakan pengikut Fir'aun dan seorang Qibti. Namun, ia menyembunyikan keimanannya. Hingga suatu hari ia menerima dakwah Musa dan membelanya. Orang ini dijelaskan Al-Quran sebagai orang yang membela dakwah. Ada beberapa pendapat mengenai siapa nama orang ini. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ia adalah “Habib”.[5] At-Tabari berpendapat bahwa ia adalah “Khair”. Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa ia adalah “Hazbil” atau “Hazfil”. Dan ada juga yang menyebutnya “Syam'an”.[6] Sedangkan dikatakan nama Ghafir (Arab:غافر) diambil dari ayat ke-3 surah ini yang di dalamnya terdapat kata Ghafir. Kata Ghafir juga merupakan salah satu sifat Allah yang artinya “Mengampuni”. Sedangkan nama At-Tawl juga diambil dari ayat ke-3 dari kata Zit Tawl yang terdapat di akhir ayat. At-Tawl memiliki arti “Mempunyai Karunia Yang Tidak Putus.”
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang masalah penyesalan orang-orang kafir berdasarkan QS. Al-Mu’min ayat 14-15 sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
B.           Rumusan Masalah
Berdasarkan inti latar belakang diatas tentang bagaimana penjelasan surah al-Mu’min maka muncullah beberapa rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
1.   Bagaimana teks ayat serta terjemahan dari QS. Al-Ga>fi>r ayat 14-15?
2.   Bagaimana Syarah Mufradat dari QS. Al-Ga>fi>r ayat 14-15?
3.   Bagaimana Syarah ayat 14-15 QS. Al-Ga>fi>r?


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Teks dan Terjemahan QS. Al-Mu’min ayat 14-15
(#qãã÷Š$$sù ©!$# šúüÅÁÎ=÷ãB çms9 tûïÏe$!$# öqs9ur on̍x. tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÊÍÈ   ßìÏùu ÏM»y_u¤$!$# rèŒ Ä¸öyèø9$# Å+ù=ムyyr9$# ô`ÏB ¾Ín̍øBr& 4n?tã `tB âä!$t±o ô`ÏB ¾ÍnÏŠ$t7Ïã uÉYãÏ9 tPöqtƒ É-Ÿx­G9$# ÇÊÎÈ [7] 
Terjemahan:
14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya) 15. (Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang mempunyai 'Arsy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya Dia memperingatkan (manusia) tentang hari Pertemuan (hari kiamat).
B.   Syarah Mufradat QS. An-Nisa>’ ayat 155

1.      ٱللَّهَ
Allah adalah nama Tuhan yang paling popular. Para ulama berbeda pendapat menyangkut lafal mulia ini, apakah ia termasuk al asma>’ al h{usna atau tidak. Banyak ulama yang berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah Ila>h yang dibubuhi dengan Alif dan Lam. Dengan demikian Allah merupakan nama khusus yang tidak dikenal bentuk jamaknya. Para ulama mengartikan Ila>h dengan “yang disembah”, menegaskan bahwa Ila>h adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh agama Islam maupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni dzat yang wajib wujud-Nya, Allah swt. karena itu, jika seorang Muslim mengucapkan La> Ila>ha Illa> Alla>h maka dia telah menafikan segala tuhan, kecuali Tuhan yang nama-Nya “Allah.”[8]
2.      مُخْلِصِينَ
Ada 31 ayat al-qur’an yang menyebut dan berkaitan dengan kata mukhlish (مُخْلِصِ) dengan berbagai perubahan bentunya, seperti kha>lis, kha>lishah, mukhlash, mukhlisi>n, dan mukhlashi>n. Mukhlish berasal dari kata  (اخلص-يخلص-اخلاصا), yang secara bahasa berarti ‘yang tulus’ ‘yang jujur’ yang murni’ ‘yang bersih’ dan ‘yang jernih’. Di dalam al-qur’an, kata mukhlish pada dasarnya mengacu pada arti ketulusan atau kemurnian hati seseorang didalam beramal.[9]
3.      ٱلْكَٰفِرُونَ
Kata ka>fir merupakan isim fa>’il (kata pelaku) dari كفر-يكفر-كفر didalam al-qur’an, kata ka>fir dan yang seasal dengannya disebut 525 kali. Secara bahasa Al-‘As}faha>ni> dan Ibn Manz\ur memaknainya dengan “menutupi” dan “menyembunyikan”. Malam hari disebut ka>fir karena ia menutupi siang atau tersembunyinya sesuatu oleh kegelapannya. Begitupula dengan awan disebut ka>fir karena ia dapat menutupi dan menyembunyikan cahaya matahari.[10] Kata kufr yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang menutup hatinya untuk menerima kebenaran. Adapun kata “him” disini menunjuk kepada orang-orang yang melanggar perjanjian.
4.      رَفِيعُ
Kata (رَفِيعُ) rafi’ disini dapat berarti yang maha tinggi – dan jika demikian ia berbicara tentang allah, bukan dari sisi keterkaitan-Nya dengan mahluk. Allah adalah wujud yang maha tinggi, bahkan setinggi-tinggi wujud dalam segala sifat keagungan-Nya.[11]
Sifat allah al-rafi’ dan al-khafidh dipahami oleh imam al-ghazali dalam arti “dia yang merendahkan orang-orang kafir dengan kesengsaraan dan neraka, serta meninggikan orang-orang mukmin dengan kebahagiaan dan surga. Dia pula yang meniggikan auwliya>’ –Nya dengan kedekatan kepada-Nya serta merendahkan musuh-musuh-Nya dengan kejauhan dari hadirat-Nya.[12]
5.                  ٱلرُّوحَ
Kata (رُّوحَ) merupakan salah satu kata turunan dari akar kata ra’ ,waw, dan h}a’. Dari akar kata tersebut terbentuk kata kerja masa lampau, ra>h}a (راح (. Kata kerja tersebut mempunyai bentuk kata kerja masa kini (fa’l mudha>ri’) dan mashdar. Perbedaan bentuk mudha>ri’ dan mashdar itu berakibat pada perbedaan makna.
Kata ru>h} dalam al-qur’an disebut 21 kali. Empat diantaranya dalam kata majemuk ru>h}ul-qudus (روح القدس ); satu kali dalam kata ar-ru>h}ul-ami>n
 ( الروح الامين); dan dengan kata ru>h} selebihnya sebanyak 16 kali. Di dalam al-qur’an, kata ru>h} mengandung banyak pengertian. Di antaranya adalah roh ciptaan allah yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia;  ada yang berarti ‘wahyu’; oleh karna itu, Al-Qur’an dapat juga disebut ru>h}. ada pula yang berarti malaikat.[13]
6.                  مِنْ
Kata مِنْ min pada kalimat من امره min amrihi ada yang memahaminya dalam arti dengan, yakni mencampakkan ruh denga atau atas perintah-Nya. Ada juga yang memahami kata min dalam arti sebagian dan kata amr dalam arti urusan, sehingga ia berarti allah mencampakkan ruh atas hamba-Nya, ruh tersebut merupakan sebagian dari urusan-Nya.[14]
7.                    شَآءُ
Kata sya>a dalam kamus Bahasa Arab adalah merupakan salah satu bentuk fi‘il ma>d}i> dari kata sya>a-yasya>u-syaian-masyi>atan yang memiliki makna menghendaki atau dengan kata lain mentakdirkan.[15] 
Kata sya>a yang disertai dengan bentuk lain dari kata tersebut terulang dalam al-Qur’a>n sebanyak 518 kali.[16]   
8.                  يَوْمَ
Secara harfiah, kata يوم berarti ‘hari’, yang berdurasi 24 jam. Jika kata yau>m diperhadapkan dengan kata lail maka menurut batasan umum, yang disebut yau>m adalah waktu dari terbit matahari hingga terbenamnya. Namun, ada juga yang menyebut batasannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, sesuai dengan batasan waktu sehari untuk ibadah puasa. Bentuk jamaknya adalah ayya>m dan aya>wi>m. hanya bentuk jamak ayya>m yang digunakan dalam al-Qur’an.
Jika dinyatakan dengan اليوم, dimaksudkan untuk waktu pada hari ini. Selain itu, kata يوم dapat diikuti dengan kata إذ  yang digabung menjadi يوم إذٍ, yang berarti pada hari itu atau pada waktu itu. Dalam al-Qur’an, kata يوم yang berbentuk mufrad tersebut sebanyak 365 kali, dalam bentuk mus\anna> tersebut sebanyak 3 kali, dan dalam bentuk jamak tersebut sebanyak 27 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 405 kali.[17]
9.              ٱلتَّلَاقِ
Kata ٱلتَّلَاقِ at-tala>qi terambil dari kata (لقي) laqiya yang berarti bertemu, yang dimaksud dengan (يوم التلاق) yaum at-tala>qi adalah hari kiamat, karena itu manusia akan menemui buah amalnya, atau akan “bertemu” dengan tuhan dalam arti akan di adili oleh-Nya, atau makhluk akan bertemu satu sama lain di padang mahsyar di mana yang menganiaya akan bertemu dengan yang dianiaya.[18]
C.   Munasabah ayat
Pada ayat-ayat yang lalu, allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin di akhirat akan memperoleh berbagai fasilitas dan kemudahan, di antaranya akan memperoleh do’a dan permohonan ampun dari para malaikat. Pada ayat-ayat berikut ini, allah menerangkan bahwa orang-orang kafir pada hari kiamat mengakui dosa-dosa mereka, dan meminta agar dikembalikan ke dunia untuk berbuat baik. Kemudian allah menerangkan kesempurnaan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya, dan sesungguhnya dia tidak memerlukan sesuatu yang lain daripada-Nya. Juga dijelaskan bahwa dia menurunkan wahyau kepada hamba-Nya yang dikehendaki untuk memberi peringatan dengan azab nanti di hari kiamat.[19]
D.  Kandungan Ayat
Kandungan ayat 14 dari surah al-mu’min. Ayat ini pula yang diperingatkan di akhir ayat 2 dan ayat 3 dari surat 39, az-zumar. Segala gerak keagamaan hendaklah mukmin, bersih, tidak ada catatan barang sedikitpun, hanya tertuju kepada allah sahaja. Akidah (kepercayaan), ibadah (perhambaan atau persembahan), syariah (peraturan dan tetacara) yang dilakukan hendaklah murni, ikhlas kepada allah. Dengan kalimat mukhlisina yang berarti orang-orang yang berhati jujur, murni. Maka berjumpalah kata ikhlas kalimat ikhlas sama artinya tauhid, yang berarti menyatukan fikiran, menyatukan tujuan kepada allah sahaja. Surat:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ  
Terjemahannya:
 Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.[20]
Tha>hir ibn ‘A>syu>r memahami ayat ini tertuju kepada kaum mukmin. Salah satu yang menguatkannya menurutulama itu adalah penutup ayat ini yang memerintahkan untuk memurnikan ketaatan kepada allah walau orang-orang kafir tidak senang. Sedangkan Thaba>thaba>’I memahaminya tertuju kepada yang mukmin dan kafir, kecuali penutup ayat ini. Menurutnya ayat ini bagaikan menyatakan: “kalau ayat-ayat allah yang terhampar membuktikan keesaan-Nya dan sifat-Nya sebagai penganugerah rezki, maka hendaklah orang-orang yang bukan termasuk orang kafir serta tidak mendebat kebenarannya hendaklah mereka menyembah Allah swt dan memurnikan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.[21]
Kandugan ayat 15 (Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya) maksudnya, Allah Maha Agung sifat-sifat-Nya, atau Dialah Yang mengangkat derajat orang-orang yang beriman di surga (Yang mempunyai Arasy) Yang menciptakannya (Yang menurunkan Ar-Ruuh) yakni wahyu atau firman-Nya (kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan) maksudnya, orang yang menerima wahyu itu diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia (tentang hari pertemuan) dapat dibaca At-Talaaqi atau At-Talaaqiy dengan memakai huruf Ya. Yakni hari kiamat, karena pada hari itu penduduk langit dan penduduk bumi bertemu, dan bertemu pula antara Yang Disembah dan yang menyembah, sebagaimana dipertemukan pula antara orang yang aniaya dan orang yang dianiaya.[22]




BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan


DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma>wardi>, Abu> al-h}asan. An-Nakt wa al 'Uyu>n, t.th.
Tibi, Bassam. Islam and the Cultural Accomedation of Sosial Change. San Francisco: Westview, 1991.
Departemen agama RI. Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung : Lubuk Agung, 1989.
                       . Al-Qur’an dan Tafsirnya, edisi yang disempurnakan. Cet. I; Jakarta: departemen agama RI, 1428 H/2007 M.
Haq, Hamka. Tafsi>r al-Azhar, Jakarta: pustaka panjimas, 1982 M.
Shihab, M. Quraish.  Membumikan al- Quran.  Bandung: Mizan, 1995.
                          . Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata. Cet I; Jakarta: lentera hati, 2007.
                         . Tafsi> al-Mishba>h}. Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007 M/1428 H.
Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: PT Mahmud Yunus wa Dzurriyyah, 2010.
Abdu al-Ba>qi>, Muh}ammad Fuwa>di. Al-Mu‘jam al-Mufahras li alfa>z} al-Qur’a>n al-kari>m. Kairo: Da>r al-kutub al-Mis}riyah, 1364 H. 
Al-suyu>ti, Jala>l al-di>n  muh}ammad bin ah}mad al-mah}alli> wa jala>l al-di>n ‘abdu al-rah}man bin abi> bakar al-suyu>ti>. Tafsi>r  al-jala>lain. Al-qa>hirah: da>r al-h}adi>ts\ t.th.



[1] M. Quraish Shihab,  Membumikan al- Quran  (Bandung: Mizan, 1995), h. 172.
[2] Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung : Lubuk Agung, 1989), hal. 260.
[3]Dalam konteks yang berbeda, kecenderungan semacam ini juga diakui oleh Bassam Tibi. Lebih lanjut baca Bassam Tibi, Islam and the Cultural Accomedation of Sosial Change (San Francisco: Westview, 1991), h. 23.
[4] Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Orang yang membaca ayat Kursi dan awal ayat surah Ha Mim Al-Mu'min, dilindungi pada hari kiamat dari pertanyaan. (HR At-Tirmizi, Al-Baihaqi dan Ad-Darimi)
[5] Abu> al-h}asan al-Ma>wardi>, An-Nakt wa al 'Uyu>n. Juz V (t.th), hal. 152.
[6] Kitab At-Ta'rif wal i'lam. hal. 131 dan 151.
[7] Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 468
[8]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II (cet I; Jakarta: lentera hati, 2007) h. 75-77
[9] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 635
[10] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz II, h. 415-416
[11] M. Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}, Jilid. I, (Cet. VII; Jakarta: Lentera Hati, 2007 M/1428 H.), 299.
[12] M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz III, h. 808
[13]M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Quran Kajian Kosa Kata, Juz III; h. 416 839-840
[14] Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}. h. 300
[15]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT Mahmud Yunus wa Dzurriyyah, 2010), h. 208.
[16]Muh}ammad Fuwa>di abdu al-Ba>qi>, al-Mu‘jam al-Mufahras li alfa>z} al-Qur’a>n al-kari>m (Kairo: Da>r al-kutub al-Mis}riyah, 1364 H), h. 391-398.  
[17]M. Quraish shihab, Ensiklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata, Jilid III, h. 1107.
[18] Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}. h. 301
[19] Departemen agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (edisi yang disempurnakan). Jilid VIII (Cet. I; Jakarta: departemen agama RI, 1428 H/2007 M) h. 508-509
[20] Hamka, Tafsi>r al-Azhar, Juz XXIV, (Jakarta: pustaka panjimas, 1982 M). h. 120-121
[21] Quraish Shihab, Tafsi> al-Mishba>h}. h. 298-299
[22] Jala>l al-di>n  muh}ammad bin ah}mad al-mah}alli> wa jala>l al-di>n ‘abdu al-rah}man bin abi> bakar al-suyu>ti>. Tafsi>r  al-jala>lain  (al-qa>hirah: da>r al-h}adi>ts\ t.th) h.619

0 komentar:

Posting Komentar