BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kaum
muslimin meyakini bahwa hadis merupakan sumber hukum utama setelah al-Qur’an,
keberadaannya merupakan realitas nyata dari ajaran islam yang terkandung dalam
al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan
sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an.
Sedangkan al-Hadis hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari
ajaran al-Qur’an itu sendiri.
Secara
historis perjalanan al-Qur’an tidak sama dengan perjalanan al-Hadis. jika
al-Qur’an sejak awalanya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh pencatat
wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya
wahyu dan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis. jika al-Qur’an
secara normative ada garansi dari Allah dan tidak ada keraguan atas
otentisitasnya, maka tidak demikian dengan hadis.
Berita
tentang perilaku Nabi Muhammad baik berupa sabda, perbuatan maupun sikapnya
didapat dari seorang sahabat atau yang lebih kebetulan hadir atau menyaksikan
saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang
kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu
disampaikan kepada murid-muridnya yang
disebut tabi’in. berita itu disampaikan lagi dari generasi selanjutnya lagi
yaitu tabi’ut tabi’in dan seterusnyahingga sampai kepada pembukuan hadis.
Akan
tetapi, sebelum hadis-hadis itu dibukukan dalam kitab hadis, hadis dari Rasulullah
dulunya hanya sebuah lembaran- lembaran. Saat zaman
Rasulullah dahulu masih banyak yang berbentuk lembaran, yang ditulis
tidak teratur oleh para sahabat.
Seiring dengan perkembangannya terjadi
pengkodifikasian hadis yang dilakukan secara individu masing – masing periwayat
hadis. Dan diantara bentuk awal hasil dari kodifikasi tersebut adalah Shahifah.
Kemudian shahifah – shahifah tersebut dibukukan ke dalam kitab – kitab hadis,
yang hingga sekarang digunakan para ulama untuk menetapkan atau mengambil
sebagai hujjah kedua setelah Al Quran. Untuk menjaga keorisinilan sebuah hadis
maka para ulama zaman dahulu membukukan hadis sehingga generasi penerusnya
tidak kesulitan mencari dan menghafal hadis – hadis.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok masalah yang
menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut dalam kajian makalah ini adalah
bagaimana syarḥ al-ḥadīṡ tentang larangan menyiksa dan membunuh hewan tanpa hak?
Untuk terarahnya dan sistematisnya pembahasan makalah
ini, maka masalah pokok di atas, dijabarkan dalam bentuk sub masalah sebagai
berikut:
1. Apa
pengertian Shahifah?
2. Shahifah apa yang terkenal pada masa Nabi
saw?
3. Apa
hubungan shahifah dengan kitab hadis?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Shahifah
Secara etimologi,
pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran
yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah
adalah lembaran-lembaran tulisan
yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul
masih hidup oleh para Sahabat. Saat penulisan tersebut, terjadi beberapa
masalah yang terkait dengan larangan dalam menuliskan sebuah hadis.
Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah SAW
bersabda: “Jangan kamu tulis sesuatu dariku selain al-Quran. Barang
siapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Quran hendaklah ia menghapusnya”
Hadis yang senada dengan hadis tersebut telah banyak
diriwayatkan oleh para sahabat, dan hadis tersebut tidak dapat diragukan lagi
keshahihannya. Disinilah terjadinya kontradiksi antara kebolehan menulis hadis
dengan tidak diperbolehkan menulis hadis. Beliau tidak mengijinkan menulis
hadis karena adanya kekhawatiran berpalingnya umat dari al-Quran, karena merasa
cukup dengan apa yang mereka tulis.[1] Rasulullah
saw. juga khawatir akan timbul kerancuan antara sabda,
penjelasan dan perilaku beliau dengan al-Quran, apalagi jika semua itu ditulis
pada lembaran yang sama.
Riwayat dari Urwah bin Zubair bahwa Umar bin al-Khaththab
ingin menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Lalu mereka berunding, meminta
Rasulullah saw. untuk membolehkan penulisan hadis. Namun Rasulullah saw. bingung, lalu beliau ber-istikharah
selama satu
bulan untuk menentukan keputusan dari permintaan para sahabat dalam menulis
hadis. Setelah mendapat petunjuk dari Allah swt, beliau berkata: “sesungguhnya saya pernah berkeinginan
untuk menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Akan tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis
beberapa kitab dan meninggalkan kitab Allah saw. Demi Allah, saya tidak akan mencampuradukkan kitab
Allah dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Akhirnya Rasulullah saw memperbolehkan penulisan hadis, dengan catatan tidak ada
keserupaan dengan al-Quran dan agar al-Quran tidak ditingalkan karena mereka
menekuni selainnya. Karena salah satu bentuk cara
penyampaian hadis Nabi saw adalah dengan surat menyurat[2]
yaitu pada saat Nabi saw mengirimkan surat kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat
unta dan kambing. Dan pernah juga dengan tegas
Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk menulis hadis.
Pada dasarnya
tidak ada pertentangan antara pelarangan dan pembolehan untuk menuliskan hadis,
yang dimaksudkan dengan pelarangan ialah pembukuan resmi seperti halnya
al-Qur’an dan pembolehan itu diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunnah
untuk diri sendiri. Pelarangan tersebut diberlakukan secara umum sedangkan
kebolehan untuk menulis hadis diberlakukan untuk orang-orang tertentu. Pendapat
ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr dari
Rasulullah saw yang pada saat itu sebagian sahabat menyatakan keberatannya
terhadap pekerjaan yang dilakukan Abdullah itu, mereka berkata kepada Abdullah,
“Anda selalu menulis apa yang anda dengar dari Nabi, padahal beliau
kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak
dijadikan syari’at umum.[3]
Mendengar hal itu Abdullah bertanya kepada Nabi, apakah boleh menulis
hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi, Nabi menjawab:
اُكْتُبْ عَنِّي، فَوَلَّذِيْ نَفْسِيْ
بِيَدِهِ، مَاخَرَجَ مِنْ فَمِيْ إِلاَّ حَقٌّ.
Artinya:
“Tulislah
apa yang anda dengar daripadaku, demi Tuhan yang jiwaku ditangan-Nya, tidak ke
luar dari mulutku, selain kebenaran.”[4]
Walaupun demikian,
penulisan hadis tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, Rasulullah saw
membolehkan menulis hadis bagi orang yang dipercaya dan mengawasi dalam
penulisan hadis serta dikhususkan bagi beberapa orang sahabat, seperti Abdullah
bin Amr, karena beliau dapat membaca kitab-kitab terdahulu dan dapat menulis
dengan bahasa yang bagus seperti bahasa arab.
B.
Shahifah
Yang Terkenal, Para penulis dan Sejarah
Pada zaman Nabi
saw, ternyata tidak sedikit di antara shabat, yang secara pribadi telah
berusaha mencatat hadis-hadis Nabi saw. shahifah yang berisi catatan
hadis-hadis Nabi saw, dibuat dipelepah-pelepah kurma, kulit-kulit kayu dan
tulang-tulang hewan.
Menurut penelitian
Dr. Muhammad Musthafa Al-A’zamy, bahwa para sahabat yang memilki shahifah/catatan
hadis ada sekitar 50 orang. Ataupun jumlah hadis yang dicatat dalam shahifah-shahifah
itu menurut Munadzir Ahsan Kailany, ada lebih dari 10.000 hadis.
Di antara para
sahabat yang telah menulis hadis-hadis Nabi saw dalam shahifah-shahifah
ialah:
1.
Shahifah
al-Shadiqah karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
Seorang sahabat yang-menurut
penilaian Abu Hurairah- paling banyak mengetahui hadis, dan sahabat yang
mendapat izin langsung untuk menulis apa saja yang didengar dari Rasul, baik
disaat Rasul Ridha maupun marah. Rasulullah juga memberikan kelonggaran bagi
‘Abdullah bin ‘Amr karena dia merupakan penulis yang baik.[5]
Dan tampaknya beliaulah yang pertama kali menuliskan hadis di hadapan Rasul.
Karenanya beliau bangga sekali dengan kitabnya tersebut, sampai beliau pernah
mengatakan,”Tidak ada yang saya senangi di dunia ini kecuali Al-Shadiqah dan
Al-Wahth, As-Shadiqah adalah Shahifah yang berisi hadis-hadis yang saya tulis
dari Nabi saw, sedangkan al-Wahth adalah tanah yang diwakafkan oleh ayahku Amr
Ibn ‘Ash”.[6]
Naskhah ini berisikan hadis sebanyak 1000 hadis, dan dihafal serta di pelihara
olah keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama ‘Amr Ibn Syu’aib
meriwayatkan hadis-hadis tersebut sebanyak 500 hadis.
Diantara hadits yang ditulis dalam
sahahifah ini antara lain:
و حَدَّثَنَاه حَامِدُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ
حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ :قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَحَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ نَعَمْ مَا بَيْنَ كَذَا إِلَى كَذَا
فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا قَالَ ثُمَّ قَالَ لِي هَذِهِ شَدِيدَةٌ مَنْ أَحْدَثَ
فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا قَالَ
فَقَالَ ابْنُ أَنَسٍ أَوْ آوَى مُحْدِثًا.
Artinya:
“Dan Telah
menceritakannya kepada kami Hamid bin Umar telah menceritakan kepada kami Abdul
Wahid telah menceritakan kepada kami Ashim ia berkata; Aku bertanya kepada Anas
bin Malik, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah
menjadikan Madinah sebagai tanah haram?" Ia menjawab, "Ya. Yaitu
dalam batas ini sampai ke sana. Siapa yang berbuat dosa di dalamnya -Anas
berbicara dengan sungguh-sungguh- maka dia akan mendapat laknat kutuk Allah,
kutuk Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan
pembayaran dendanya. Kata Ibn Anas dengan tambahan redaksi "Atau
melestarikan dosa dan maksiat."[7]
2.
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
yang sampai ke tangan ini bersumber dari riwayat al-Ḥasan Ibn Abī al-Rabī’ dari ‘Abd
al-Razzāq Ibn Hammām, dari
Mu’ammar Ibn Rāsyid, dari Hammām Ibn Munabbah
berkata bahwa sahifah ini berasal dari sahabat Nabi Muhammad saw. Abu Hurairah
r.a. dan langsung bersumber dari Nabi Muhammad saw.[8]
3.
Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
حَدَّثَنَا ابْنُ
بَهَانَ، ثَنَا عَبْدَانُ الْوَكِيلُ، ثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، حَدَّثَنِي
عَاصِمٌ قَالَ: " عَرَضْنَا عَلَى عَامِرٍ صَحِيفَةَ كُتِبَتْ، عَنْ جَابِرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ: قَدْ سَمِعْتُ هَذَا كُلَّهُ مِنْ جَابِرٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ "[9]
Kami Telah diceritakan
oleh Ibn Bahān, menceritakan
Ibn Abī Zāidah,
menceritakan ‘Āṣim bahwa kami mendatangi Imam ‘Āmir sebuah sahifah yang ditulis oleh Jābir Ibn
‘Abdillah r.a. sahabat Nabi Muhammad saw. Maka Imam ‘Āmir berkata bahwa sahifah ini semuanya benar berasal dari
Jābir Ibn ‘Abdillāh
Zain al-Dīn al-Bagdādī menambahkan
bahwa Syu’bah dan Ibn ‘Uyainah mendapatkan riwayat dari sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh.[10]
Sahifah ini memiliki banyak lembaran halaman dan sangat terkenal[11]
di kalangan pelajar apa lagi ahli hadis
4.
Sahifah Ibn
‘Abbāṣ
حدَّثَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، ثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ،
ثَنَا مِنْدَلٌ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ
جُبَيْرٍ قَالَ: «كُنْتُ أَكْتُبُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا امْتَلَأَتِ
الصَّحِيفَةُ أَخَذْتُ نَعْلِي فَكَتَبْتُ فِيهَا حَتَّى تَمْتَلِئَ»[12]
Artinya:
“Telah
menceritakan kepada kami Abū Khalīfah, telah menceritakan kepada kami Mindal, dari Ja’far
Ibn Abī al-Mugīrah, dari Sa’īd Ibn Jubair
berkata bahwa dulu, saya menulis (hadis) di sisi Ibn ‘Abbās. Maka jika sahifah Ibn ‘Abbās menulis hadis di sahifahnya, maka saya ambil sendalku
dan saya gunakan untuk menulis hadis Nabi Muhammad saw.
5.
Sahifah al-Ṣādiqah
Sahifah al-Ṣādiqah merupakan
sahifah yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad saw. ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Āṣ r.a.[13]
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، أَخْبَرَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ
لَيْثٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ:
«الصَّادِقَةُ صَحِيفَةٌ كَتَبْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ»[14]
“Telah
mengkabari kami ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdillah al-Muta’addil, telah mengkabari
kami Ismā’il Ibn Muḥammad al-Ṣaffār, telah
menceritakan kami ‘bbās Ibn Muḥammad Ibn Ḥātim, telah menceritakan kami Muḥammad Ibn al-Ṣalt, telah menceritakan kami Syarīk, dari Laiṡ, dari Ṭāwus, dari
‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn
‘Āṣ r.a. berkata bahwa al-ṣādiqah merupakah
sahifah yang saya sendiri yang menulisnya dan menukilkannya dari Nabi Muhammad
saw.”
Sahifah al-Ṣādiqah merupakan
sahifah yang ditulis langsung ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Āṣ r.a. dihadapan Nabi Muhammad saw. Dan ketika itu
Nabi
Muhammad saw. Sendiri yang mengizinkannya untuk ditulis.[15]
C.
Hubungan
antara Shahifah dan Kitab Hadis
Masa
penulisan dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada awal abad kedua
hijriah. Pada periode ini hadis-hadis Nabi saw mulai ditulis dan dikumpulkan
secara resmi. Umar ibn ‘Abd al-Azi>z salah seorang khalifah dari dinasti
Umayyah yang mulai memerintah di penghujung abad pertama Hijriyah, merasa perlu
untuk mengambil langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan hadis Nabi saw
secara resmi, yang selama ini berserakan di dalam catatan dan hafalan para
sahabat dan tabi’in. Hal tersebut dirasakannya sangat mendesak karena pada masa
itu wilayah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke daerah-daerah di luar
Jazirah Arabia, di samping para sahabat sendiri, yang hafalan dan catatan
pribadi mereka mengenai hadis merupakan sumber rujukan bagi ahli hadis ketika
itu, sebagian besar telah meninggal dunia karena faktor usia dan akibat
banyaknya terjadi peperangan.[16]
Jadi
menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi
sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan
kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah
disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis
oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan
berdasarkan tema.
Adapun kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi
pada abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-7 H yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak
dirujuk oleh para ulama adalah:
1) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-2 H:
a) Kitab
al-Muwaththa’, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Abu Ja’far
al-Manshur.
b) Musnad
al-Syafi’I, karya Imam al-Syafi’I, yaitu berupa kumpulan hadis yang terdapat
dalam kitab al-Umm.
c) Mukhtaliful
Hadis, karya Imam al-syafi’I yang isinya mengandung pembahasan tentang
cara-cara memelihara hadis sebagai hujjah dan cara-cara mengompromikan hadis
yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
d) Al-Sirat
al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi
saw dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi.[17]
2) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-3 H:
a)
Kitab shahih, kitab
ini hanya menghimpun hadis-hadis shahih,
sedangkan yang tidak shahih tak
dimasukkan kedalamnya. Bentuk penyusunannya adalah bentuk musannaf, yaitu
penyajian berdasarkan bab-bab masalah tertentu sebagaimana metode kitab-kitab
fiqih.[18]
b)
Kitab sunan adalah
empat sunan, yaitu Sunan
Abu> Da>wu>d, Sunan al-Tirmidzi,Sunan al-Nasa’I dan Sunan
Ibnu Majah.
Kitab-kitab hadis nomor dua ini yang mendekati Al-Muwaththa’ dan Shahi>hayn
sekalipun sederajat dengannya. Penulisnya orang-orang yang terkenal kredibilitas,
keadilan, ke-dhabith-an dan
keluasan keilmuannya dalam bidang hadis dan ilmu hadis.[19]
c)
Kitab musnad. Di dalam
kitab ini hadis-hadis disusun berdasarkan urutan perawi pertama. Urutan nama
perawi pertama ada yang berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan Bani
Hisyam dari yang lainnya, ada yang berdasarkan nama sahabat menurut urutan
waktu yang memeluk agama Islam dan ada yang menurut urutan lainnya.
3) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-7 H:
a)
Kitab Athraf. Di
dalam kitab ini penyususnannya hanya menyebutkan sebagian dari matan
hadis
tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan hadis
tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu,
baik sanad yang
berasal dari kitab hadis yang dikutip matan-nya
ataupun
dari kitab-kitab lainnya.
b)
Kitab Mustakhraj. Kitab
ini memuat matan hadis
yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya dan
selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan hadis
tersebut dengan sanad-nya
sendiri.
c)
Kitab Mustadrak. Kitab
ini menghimpun hadis-hadis yang meiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau
yang memiliki salah satu syarat dari keduanya.
d)
Kitab Jami’. Kitab
ini menghimpun hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu
seperti menghimpun hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
1.
Secara
etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara
terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran tulisan yang berisi hadis dan
ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul
masih hidup oleh para Sahabat.
2.
Adapun
shahifah-shahifah yang terkenal ialah:
a)
Shahifah
al-Shadiqah karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
b)
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
c)
Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
d)
Sahifah Ibn
‘Abbāṣ
e)
Sahifah al-Ṣādiqah
3.
Hubungan antara shahifah dan
kitab hadis adalah
Jadi menurut hemat penulis
keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh
terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis
memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun
berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh
para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan
berdasarkan tema.
4.
DAFTAR PUSTAKA
Abu> al-H}asan al-Qusyairi>
al-naisaburi>, Muslim bin al-H}ajja>j. S}ah}i>h} Muslim. Beirut:
Da>r -Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.
Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur. Ulumul
Hadis. Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.
Bakr al-Bagdādī, Abū. Taqyīd al-‘Ilm. Beirut: Iḥyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.
Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad
al-Da>rimi>y, Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin
al-Fad}l bin. Sunan al-Da>rimi>y. Cet. I; Arab Saudi: Da>r
al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad. Sejarah
dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.
‘Itr, Nuruddin. ‘Ulumul Hadis. Cet.
II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
al-Khatib, Muh}ammad ‘Ajja>j. Ushul
al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis
Pokok-Pokok. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.
Maid Khon, Abdul. Ulmul Hadis. Jakarta:
Amzah, 2012.
Muḥammad al-Ramahurmūżī, Abū. Al-Muḥaddīṡ al-Fāṣil baina al-Rāwī wa al-Wā’ī. Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H.
al-Quzwainī, Sirāj al-Dīn. Masyīkhah al-Quzwainī. Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H.
Rajab bin H{asan al-Salami>y, Zainuddin
‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin. Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h}
al-Bukha>ri>. Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q
al-H}aramain, 1417 H.
Sayadi, Wajidi. Ilmu Hadis. Cet.
I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.
Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu
Hadis. Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.
al-Yamānī, ‘Abd al-Raḥmān. Al-Anwār al-Kāsyifah. Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H.
Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syarḥ ‘Ilal al-Turmużī. Cet. I; Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H.
[1]Nuruddin ‘Itr, ‘Ulumul Hadis,
(Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.), h. 30.
[2]Wajidi Sayadi, Ilmu Hadis,
(Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.), h. 49
[3]Teungku Muhammad Hasbi
Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. IV; Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra, 1999.), h. 36-39.
[4]Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin
Ah}mad bin Rajab bin H{asan al-Salami>y, Fath al-Ba>ri>y Syarh
S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz I (Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r
al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.), 165.
[5]Muh}ammad ‘Ajja>j al-Khatib, Ushul
al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis
Pokok-Pokok, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.), h. 172.
[6]Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd
al-Rah}man bin al-Fad}l bin Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y,
Sunan al-Da>rimi>y, Juz I (Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni>
linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.), h. 127.
[7]Muslim bin al-H}ajja>j
Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, S}ah}i>h} Muslim,
Juz IV (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.), h.
1366.
[8]Lihat
Sirāj al-Dīn al-Quzwainī, Masyīkhah
al-Quzwainī
(Cet. I; t.t.: Dār
al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H), h. 270.
[9]Abū Muḥammad
al-Ramahurmūżī, Al-Muḥaddīṡ
al-Fāṣil
baina al-Rāwī wa al-Wā’ī (Cet. III;
Beirut: Dār
al-Fikr, 1404 H), h. 430.
[10]Lihat Zain
al-Dīn al-Bagdādī, Syarḥ ‘Ilal
al-Turmużī, jilid
2 (Cet. I; Yordania: Maktabah
al-Manār, 1407 H),
h. 852.
[16]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul
Hadis, (Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.), h. 62.
[17]Syuhudi Ismail, Pengantar
Ilmu Hadis, (Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.), h. 104.
[18]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul
Hadis, h. 69.
PENGETAHUAN TENTANG
SHAHIFAH DAN KITAB HADIS
Tugas Makalah
Membahas
Kitab Hadis
Semester VI
Prodi Ilmu
Hadis
OLEH
MUNIRAH
RAHMAN
NASIHUDDIN
FIRMAN
Dosen Pembimbing:
JURUSAN
TAFSIR HADIS
FAKULTAS
USHULUDDIN, FILSAFAT DAN POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN
AKADEMIK 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kaum
muslimin meyakini bahwa hadis merupakan sumber hukum utama setelah al-Qur’an,
keberadaannya merupakan realitas nyata dari ajaran islam yang terkandung dalam
al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan
sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an.
Sedangkan al-Hadis hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari
ajaran al-Qur’an itu sendiri.
Secara
historis perjalanan al-Qur’an tidak sama dengan perjalanan al-Hadis. jika
al-Qur’an sejak awalanya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh pencatat
wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya
wahyu dan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis. jika al-Qur’an
secara normative ada garansi dari Allah dan tidak ada keraguan atas
otentisitasnya, maka tidak demikian dengan hadis.
Berita
tentang perilaku Nabi Muhammad baik berupa sabda, perbuatan maupun sikapnya
didapat dari seorang sahabat atau yang lebih kebetulan hadir atau menyaksikan
saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang
kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu
disampaikan kepada murid-muridnya yang
disebut tabi’in. berita itu disampaikan lagi dari generasi selanjutnya lagi
yaitu tabi’ut tabi’in dan seterusnyahingga sampai kepada pembukuan hadis.
Akan
tetapi, sebelum hadis-hadis itu dibukukan dalam kitab hadis, hadis dari Rasulullah
dulunya hanya sebuah lembaran- lembaran. Saat zaman
Rasulullah dahulu masih banyak yang berbentuk lembaran, yang ditulis
tidak teratur oleh para sahabat.
Seiring dengan perkembangannya terjadi
pengkodifikasian hadis yang dilakukan secara individu masing – masing periwayat
hadis. Dan diantara bentuk awal hasil dari kodifikasi tersebut adalah Shahifah.
Kemudian shahifah – shahifah tersebut dibukukan ke dalam kitab – kitab hadis,
yang hingga sekarang digunakan para ulama untuk menetapkan atau mengambil
sebagai hujjah kedua setelah Al Quran. Untuk menjaga keorisinilan sebuah hadis
maka para ulama zaman dahulu membukukan hadis sehingga generasi penerusnya
tidak kesulitan mencari dan menghafal hadis – hadis.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok masalah yang
menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut dalam kajian makalah ini adalah
bagaimana syarḥ al-ḥadīṡ tentang larangan menyiksa dan membunuh hewan tanpa hak?
Untuk terarahnya dan sistematisnya pembahasan makalah
ini, maka masalah pokok di atas, dijabarkan dalam bentuk sub masalah sebagai
berikut:
1. Apa
pengertian Shahifah?
2. Shahifah apa yang terkenal pada masa Nabi
saw?
3. Apa
hubungan shahifah dengan kitab hadis?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Shahifah
Secara etimologi,
pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran
yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah
adalah lembaran-lembaran tulisan
yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul
masih hidup oleh para Sahabat. Saat penulisan tersebut, terjadi beberapa
masalah yang terkait dengan larangan dalam menuliskan sebuah hadis.
Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah SAW
bersabda: “Jangan kamu tulis sesuatu dariku selain al-Quran. Barang
siapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Quran hendaklah ia menghapusnya”
Hadis yang senada dengan hadis tersebut telah banyak
diriwayatkan oleh para sahabat, dan hadis tersebut tidak dapat diragukan lagi
keshahihannya. Disinilah terjadinya kontradiksi antara kebolehan menulis hadis
dengan tidak diperbolehkan menulis hadis. Beliau tidak mengijinkan menulis
hadis karena adanya kekhawatiran berpalingnya umat dari al-Quran, karena merasa
cukup dengan apa yang mereka tulis.[1] Rasulullah
saw. juga khawatir akan timbul kerancuan antara sabda,
penjelasan dan perilaku beliau dengan al-Quran, apalagi jika semua itu ditulis
pada lembaran yang sama.
Riwayat dari Urwah bin Zubair bahwa Umar bin al-Khaththab
ingin menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Lalu mereka berunding, meminta
Rasulullah saw. untuk membolehkan penulisan hadis. Namun Rasulullah saw. bingung, lalu beliau ber-istikharah
selama satu
bulan untuk menentukan keputusan dari permintaan para sahabat dalam menulis
hadis. Setelah mendapat petunjuk dari Allah swt, beliau berkata: “sesungguhnya saya pernah berkeinginan
untuk menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Akan tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis
beberapa kitab dan meninggalkan kitab Allah saw. Demi Allah, saya tidak akan mencampuradukkan kitab
Allah dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Akhirnya Rasulullah saw memperbolehkan penulisan hadis, dengan catatan tidak ada
keserupaan dengan al-Quran dan agar al-Quran tidak ditingalkan karena mereka
menekuni selainnya. Karena salah satu bentuk cara
penyampaian hadis Nabi saw adalah dengan surat menyurat[2]
yaitu pada saat Nabi saw mengirimkan surat kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat
unta dan kambing. Dan pernah juga dengan tegas
Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk menulis hadis.
Pada dasarnya
tidak ada pertentangan antara pelarangan dan pembolehan untuk menuliskan hadis,
yang dimaksudkan dengan pelarangan ialah pembukuan resmi seperti halnya
al-Qur’an dan pembolehan itu diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunnah
untuk diri sendiri. Pelarangan tersebut diberlakukan secara umum sedangkan
kebolehan untuk menulis hadis diberlakukan untuk orang-orang tertentu. Pendapat
ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr dari
Rasulullah saw yang pada saat itu sebagian sahabat menyatakan keberatannya
terhadap pekerjaan yang dilakukan Abdullah itu, mereka berkata kepada Abdullah,
“Anda selalu menulis apa yang anda dengar dari Nabi, padahal beliau
kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak
dijadikan syari’at umum.[3]
Mendengar hal itu Abdullah bertanya kepada Nabi, apakah boleh menulis
hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi, Nabi menjawab:
اُكْتُبْ عَنِّي، فَوَلَّذِيْ نَفْسِيْ
بِيَدِهِ، مَاخَرَجَ مِنْ فَمِيْ إِلاَّ حَقٌّ.
Artinya:
“Tulislah
apa yang anda dengar daripadaku, demi Tuhan yang jiwaku ditangan-Nya, tidak ke
luar dari mulutku, selain kebenaran.”[4]
Walaupun demikian,
penulisan hadis tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, Rasulullah saw
membolehkan menulis hadis bagi orang yang dipercaya dan mengawasi dalam
penulisan hadis serta dikhususkan bagi beberapa orang sahabat, seperti Abdullah
bin Amr, karena beliau dapat membaca kitab-kitab terdahulu dan dapat menulis
dengan bahasa yang bagus seperti bahasa arab.
B.
Shahifah
Yang Terkenal, Para penulis dan Sejarah
Pada zaman Nabi
saw, ternyata tidak sedikit di antara shabat, yang secara pribadi telah
berusaha mencatat hadis-hadis Nabi saw. shahifah yang berisi catatan
hadis-hadis Nabi saw, dibuat dipelepah-pelepah kurma, kulit-kulit kayu dan
tulang-tulang hewan.
Menurut penelitian
Dr. Muhammad Musthafa Al-A’zamy, bahwa para sahabat yang memilki shahifah/catatan
hadis ada sekitar 50 orang. Ataupun jumlah hadis yang dicatat dalam shahifah-shahifah
itu menurut Munadzir Ahsan Kailany, ada lebih dari 10.000 hadis.
Di antara para
sahabat yang telah menulis hadis-hadis Nabi saw dalam shahifah-shahifah
ialah:
1.
Shahifah
al-Shadiqah karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
Seorang sahabat yang-menurut
penilaian Abu Hurairah- paling banyak mengetahui hadis, dan sahabat yang
mendapat izin langsung untuk menulis apa saja yang didengar dari Rasul, baik
disaat Rasul Ridha maupun marah. Rasulullah juga memberikan kelonggaran bagi
‘Abdullah bin ‘Amr karena dia merupakan penulis yang baik.[5]
Dan tampaknya beliaulah yang pertama kali menuliskan hadis di hadapan Rasul.
Karenanya beliau bangga sekali dengan kitabnya tersebut, sampai beliau pernah
mengatakan,”Tidak ada yang saya senangi di dunia ini kecuali Al-Shadiqah dan
Al-Wahth, As-Shadiqah adalah Shahifah yang berisi hadis-hadis yang saya tulis
dari Nabi saw, sedangkan al-Wahth adalah tanah yang diwakafkan oleh ayahku Amr
Ibn ‘Ash”.[6]
Naskhah ini berisikan hadis sebanyak 1000 hadis, dan dihafal serta di pelihara
olah keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama ‘Amr Ibn Syu’aib
meriwayatkan hadis-hadis tersebut sebanyak 500 hadis.
Diantara hadits yang ditulis dalam
sahahifah ini antara lain:
و حَدَّثَنَاه حَامِدُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ
حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ :قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَحَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ نَعَمْ مَا بَيْنَ كَذَا إِلَى كَذَا
فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا قَالَ ثُمَّ قَالَ لِي هَذِهِ شَدِيدَةٌ مَنْ أَحْدَثَ
فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا قَالَ
فَقَالَ ابْنُ أَنَسٍ أَوْ آوَى مُحْدِثًا.
Artinya:
“Dan Telah
menceritakannya kepada kami Hamid bin Umar telah menceritakan kepada kami Abdul
Wahid telah menceritakan kepada kami Ashim ia berkata; Aku bertanya kepada Anas
bin Malik, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah
menjadikan Madinah sebagai tanah haram?" Ia menjawab, "Ya. Yaitu
dalam batas ini sampai ke sana. Siapa yang berbuat dosa di dalamnya -Anas
berbicara dengan sungguh-sungguh- maka dia akan mendapat laknat kutuk Allah,
kutuk Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan
pembayaran dendanya. Kata Ibn Anas dengan tambahan redaksi "Atau
melestarikan dosa dan maksiat."[7]
2.
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
yang sampai ke tangan ini bersumber dari riwayat al-Ḥasan Ibn Abī al-Rabī’ dari ‘Abd
al-Razzāq Ibn Hammām, dari
Mu’ammar Ibn Rāsyid, dari Hammām Ibn Munabbah
berkata bahwa sahifah ini berasal dari sahabat Nabi Muhammad saw. Abu Hurairah
r.a. dan langsung bersumber dari Nabi Muhammad saw.[8]
3.
Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
حَدَّثَنَا ابْنُ
بَهَانَ، ثَنَا عَبْدَانُ الْوَكِيلُ، ثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، حَدَّثَنِي
عَاصِمٌ قَالَ: " عَرَضْنَا عَلَى عَامِرٍ صَحِيفَةَ كُتِبَتْ، عَنْ جَابِرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ: قَدْ سَمِعْتُ هَذَا كُلَّهُ مِنْ جَابِرٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ "[9]
Kami Telah diceritakan
oleh Ibn Bahān, menceritakan
Ibn Abī Zāidah,
menceritakan ‘Āṣim bahwa kami mendatangi Imam ‘Āmir sebuah sahifah yang ditulis oleh Jābir Ibn
‘Abdillah r.a. sahabat Nabi Muhammad saw. Maka Imam ‘Āmir berkata bahwa sahifah ini semuanya benar berasal dari
Jābir Ibn ‘Abdillāh
Zain al-Dīn al-Bagdādī menambahkan
bahwa Syu’bah dan Ibn ‘Uyainah mendapatkan riwayat dari sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh.[10]
Sahifah ini memiliki banyak lembaran halaman dan sangat terkenal[11]
di kalangan pelajar apa lagi ahli hadis
4.
Sahifah Ibn
‘Abbāṣ
حدَّثَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، ثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ،
ثَنَا مِنْدَلٌ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ
جُبَيْرٍ قَالَ: «كُنْتُ أَكْتُبُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا امْتَلَأَتِ
الصَّحِيفَةُ أَخَذْتُ نَعْلِي فَكَتَبْتُ فِيهَا حَتَّى تَمْتَلِئَ»[12]
Artinya:
“Telah
menceritakan kepada kami Abū Khalīfah, telah menceritakan kepada kami Mindal, dari Ja’far
Ibn Abī al-Mugīrah, dari Sa’īd Ibn Jubair
berkata bahwa dulu, saya menulis (hadis) di sisi Ibn ‘Abbās. Maka jika sahifah Ibn ‘Abbās menulis hadis di sahifahnya, maka saya ambil sendalku
dan saya gunakan untuk menulis hadis Nabi Muhammad saw.
5.
Sahifah al-Ṣādiqah
Sahifah al-Ṣādiqah merupakan
sahifah yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad saw. ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Āṣ r.a.[13]
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، أَخْبَرَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ
لَيْثٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ:
«الصَّادِقَةُ صَحِيفَةٌ كَتَبْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ»[14]
“Telah
mengkabari kami ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdillah al-Muta’addil, telah mengkabari
kami Ismā’il Ibn Muḥammad al-Ṣaffār, telah
menceritakan kami ‘bbās Ibn Muḥammad Ibn Ḥātim, telah menceritakan kami Muḥammad Ibn al-Ṣalt, telah menceritakan kami Syarīk, dari Laiṡ, dari Ṭāwus, dari
‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn
‘Āṣ r.a. berkata bahwa al-ṣādiqah merupakah
sahifah yang saya sendiri yang menulisnya dan menukilkannya dari Nabi Muhammad
saw.”
Sahifah al-Ṣādiqah merupakan
sahifah yang ditulis langsung ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Āṣ r.a. dihadapan Nabi Muhammad saw. Dan ketika itu
Nabi
Muhammad saw. Sendiri yang mengizinkannya untuk ditulis.[15]
C.
Hubungan
antara Shahifah dan Kitab Hadis
Masa
penulisan dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada awal abad kedua
hijriah. Pada periode ini hadis-hadis Nabi saw mulai ditulis dan dikumpulkan
secara resmi. Umar ibn ‘Abd al-Azi>z salah seorang khalifah dari dinasti
Umayyah yang mulai memerintah di penghujung abad pertama Hijriyah, merasa perlu
untuk mengambil langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan hadis Nabi saw
secara resmi, yang selama ini berserakan di dalam catatan dan hafalan para
sahabat dan tabi’in. Hal tersebut dirasakannya sangat mendesak karena pada masa
itu wilayah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke daerah-daerah di luar
Jazirah Arabia, di samping para sahabat sendiri, yang hafalan dan catatan
pribadi mereka mengenai hadis merupakan sumber rujukan bagi ahli hadis ketika
itu, sebagian besar telah meninggal dunia karena faktor usia dan akibat
banyaknya terjadi peperangan.[16]
Jadi
menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi
sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan
kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah
disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis
oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan
berdasarkan tema.
Adapun kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi
pada abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-7 H yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak
dirujuk oleh para ulama adalah:
1) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-2 H:
a) Kitab
al-Muwaththa’, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Abu Ja’far
al-Manshur.
b) Musnad
al-Syafi’I, karya Imam al-Syafi’I, yaitu berupa kumpulan hadis yang terdapat
dalam kitab al-Umm.
c) Mukhtaliful
Hadis, karya Imam al-syafi’I yang isinya mengandung pembahasan tentang
cara-cara memelihara hadis sebagai hujjah dan cara-cara mengompromikan hadis
yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
d) Al-Sirat
al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi
saw dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi.[17]
2) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-3 H:
a)
Kitab shahih, kitab
ini hanya menghimpun hadis-hadis shahih,
sedangkan yang tidak shahih tak
dimasukkan kedalamnya. Bentuk penyusunannya adalah bentuk musannaf, yaitu
penyajian berdasarkan bab-bab masalah tertentu sebagaimana metode kitab-kitab
fiqih.[18]
b)
Kitab sunan adalah
empat sunan, yaitu Sunan
Abu> Da>wu>d, Sunan al-Tirmidzi,Sunan al-Nasa’I dan Sunan
Ibnu Majah.
Kitab-kitab hadis nomor dua ini yang mendekati Al-Muwaththa’ dan Shahi>hayn
sekalipun sederajat dengannya. Penulisnya orang-orang yang terkenal kredibilitas,
keadilan, ke-dhabith-an dan
keluasan keilmuannya dalam bidang hadis dan ilmu hadis.[19]
c)
Kitab musnad. Di dalam
kitab ini hadis-hadis disusun berdasarkan urutan perawi pertama. Urutan nama
perawi pertama ada yang berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan Bani
Hisyam dari yang lainnya, ada yang berdasarkan nama sahabat menurut urutan
waktu yang memeluk agama Islam dan ada yang menurut urutan lainnya.
3) Kitab-kitab
hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-7 H:
a)
Kitab Athraf. Di
dalam kitab ini penyususnannya hanya menyebutkan sebagian dari matan
hadis
tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan hadis
tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu,
baik sanad yang
berasal dari kitab hadis yang dikutip matan-nya
ataupun
dari kitab-kitab lainnya.
b)
Kitab Mustakhraj. Kitab
ini memuat matan hadis
yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya dan
selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan hadis
tersebut dengan sanad-nya
sendiri.
c)
Kitab Mustadrak. Kitab
ini menghimpun hadis-hadis yang meiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau
yang memiliki salah satu syarat dari keduanya.
d)
Kitab Jami’. Kitab
ini menghimpun hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu
seperti menghimpun hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
1.
Secara
etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara
terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran tulisan yang berisi hadis dan
ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul
masih hidup oleh para Sahabat.
2.
Adapun
shahifah-shahifah yang terkenal ialah:
a)
Shahifah
al-Shadiqah karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
b)
Sahifah Hammām Ibn Munabbah
c)
Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
d)
Sahifah Ibn
‘Abbāṣ
e)
Sahifah al-Ṣādiqah
3.
Hubungan antara shahifah dan
kitab hadis adalah
Jadi menurut hemat penulis
keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh
terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis
memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun
berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh
para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan
berdasarkan tema.
4.
DAFTAR PUSTAKA
Abu> al-H}asan al-Qusyairi>
al-naisaburi>, Muslim bin al-H}ajja>j. S}ah}i>h} Muslim. Beirut:
Da>r -Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.
Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur. Ulumul
Hadis. Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.
Bakr al-Bagdādī, Abū. Taqyīd al-‘Ilm. Beirut: Iḥyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.
Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad
al-Da>rimi>y, Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin
al-Fad}l bin. Sunan al-Da>rimi>y. Cet. I; Arab Saudi: Da>r
al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad. Sejarah
dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.
‘Itr, Nuruddin. ‘Ulumul Hadis. Cet.
II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
al-Khatib, Muh}ammad ‘Ajja>j. Ushul
al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis
Pokok-Pokok. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.
Maid Khon, Abdul. Ulmul Hadis. Jakarta:
Amzah, 2012.
Muḥammad al-Ramahurmūżī, Abū. Al-Muḥaddīṡ al-Fāṣil baina al-Rāwī wa al-Wā’ī. Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H.
al-Quzwainī, Sirāj al-Dīn. Masyīkhah al-Quzwainī. Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H.
Rajab bin H{asan al-Salami>y, Zainuddin
‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin. Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h}
al-Bukha>ri>. Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q
al-H}aramain, 1417 H.
Sayadi, Wajidi. Ilmu Hadis. Cet.
I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.
Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu
Hadis. Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.
al-Yamānī, ‘Abd al-Raḥmān. Al-Anwār al-Kāsyifah. Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H.
Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syarḥ ‘Ilal al-Turmużī. Cet. I; Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H.
[1]Nuruddin ‘Itr, ‘Ulumul Hadis,
(Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.), h. 30.
[2]Wajidi Sayadi, Ilmu Hadis,
(Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.), h. 49
[3]Teungku Muhammad Hasbi
Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. IV; Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra, 1999.), h. 36-39.
[4]Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin
Ah}mad bin Rajab bin H{asan al-Salami>y, Fath al-Ba>ri>y Syarh
S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz I (Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r
al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.), 165.
[5]Muh}ammad ‘Ajja>j al-Khatib, Ushul
al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis
Pokok-Pokok, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.), h. 172.
[6]Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd
al-Rah}man bin al-Fad}l bin Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y,
Sunan al-Da>rimi>y, Juz I (Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni>
linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.), h. 127.
[7]Muslim bin al-H}ajja>j
Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, S}ah}i>h} Muslim,
Juz IV (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.), h.
1366.
[8]Lihat
Sirāj al-Dīn al-Quzwainī, Masyīkhah
al-Quzwainī
(Cet. I; t.t.: Dār
al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H), h. 270.
[9]Abū Muḥammad
al-Ramahurmūżī, Al-Muḥaddīṡ
al-Fāṣil
baina al-Rāwī wa al-Wā’ī (Cet. III;
Beirut: Dār
al-Fikr, 1404 H), h. 430.
[10]Lihat Zain
al-Dīn al-Bagdādī, Syarḥ ‘Ilal
al-Turmużī, jilid
2 (Cet. I; Yordania: Maktabah
al-Manār, 1407 H),
h. 852.
[16]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul
Hadis, (Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.), h. 62.
[17]Syuhudi Ismail, Pengantar
Ilmu Hadis, (Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.), h. 104.
[18]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul
Hadis, h. 69.








0 komentar:
Posting Komentar