Kamis, 09 April 2015

Shahifah dan Kitab-Kitab Hadis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kaum muslimin meyakini bahwa hadis merupakan sumber hukum utama setelah al-Qur’an, keberadaannya merupakan realitas nyata dari ajaran islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an. Sedangkan al-Hadis hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qur’an itu sendiri.

Secara historis perjalanan al-Qur’an tidak sama dengan perjalanan al-Hadis. jika al-Qur’an sejak awalanya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh pencatat wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis. jika al-Qur’an secara normative ada garansi dari Allah dan tidak ada keraguan atas otentisitasnya, maka tidak demikian dengan hadis.
Berita tentang perilaku Nabi Muhammad baik berupa sabda, perbuatan maupun sikapnya didapat dari seorang sahabat atau yang lebih kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya  yang disebut tabi’in. berita itu disampaikan lagi dari generasi selanjutnya lagi yaitu tabi’ut tabi’in dan seterusnyahingga sampai kepada pembukuan hadis.
Akan tetapi, sebelum hadis-hadis itu dibukukan dalam kitab hadis, hadis dari Rasulullah dulunya hanya sebuah lembaran- lembaran. Saat zaman Rasulullah dahulu masih banyak yang berbentuk lembaran,  yang ditulis tidak teratur oleh para sahabat.
Seiring dengan  perkembangannya terjadi pengkodifikasian hadis yang dilakukan secara individu masing – masing periwayat hadis. Dan diantara bentuk awal hasil dari kodifikasi tersebut adalah Shahifah. Kemudian shahifah – shahifah tersebut dibukukan ke dalam kitab – kitab hadis, yang hingga sekarang digunakan para ulama untuk menetapkan atau mengambil sebagai hujjah kedua setelah Al Quran. Untuk menjaga keorisinilan sebuah hadis maka para ulama zaman dahulu membukukan hadis sehingga generasi penerusnya tidak kesulitan mencari dan menghafal  hadis – hadis.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok masalah yang menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut dalam kajian makalah ini adalah bagaimana syar al-ḥadīṡ tentang larangan menyiksa dan membunuh hewan tanpa hak?
            Untuk terarahnya dan sistematisnya pembahasan makalah ini, maka masalah pokok di atas, dijabarkan dalam bentuk sub masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Shahifah?
2.      Shahifah apa yang terkenal pada masa Nabi saw?
3.      Apa hubungan shahifah dengan kitab hadis?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Shahifah
Secara etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran  tulisan yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul masih hidup oleh para Sahabat. Saat penulisan tersebut, terjadi beberapa masalah yang terkait dengan larangan dalam menuliskan sebuah hadis. Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kamu tulis sesuatu dariku selain al-Quran. Barang siapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Quran hendaklah ia menghapusnya”
Hadis yang senada dengan hadis tersebut telah banyak diriwayatkan oleh para sahabat, dan hadis tersebut tidak dapat diragukan lagi keshahihannya. Disinilah terjadinya kontradiksi antara kebolehan menulis hadis dengan tidak diperbolehkan menulis hadis. Beliau tidak mengijinkan menulis hadis karena adanya kekhawatiran berpalingnya umat dari al-Quran, karena merasa cukup dengan apa yang mereka tulis.[1] Rasulullah saw.  juga khawatir akan timbul kerancuan antara sabda, penjelasan dan perilaku beliau dengan al-Quran, apalagi jika semua itu ditulis pada lembaran yang sama.
Riwayat dari Urwah bin Zubair bahwa Umar bin al-Khaththab ingin menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Lalu mereka berunding, meminta Rasulullah saw. untuk membolehkan penulisan hadis. Namun Rasulullah saw. bingung, lalu beliau ber-istikharah selama satu bulan untuk menentukan keputusan dari permintaan para sahabat dalam menulis hadis. Setelah mendapat petunjuk dari Allah swt, beliau berkata: “sesungguhnya saya pernah berkeinginan untuk menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Akan tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis beberapa kitab dan meninggalkan kitab Allah saw. Demi Allah, saya tidak akan mencampuradukkan kitab Allah dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Akhirnya Rasulullah saw memperbolehkan penulisan hadis, dengan catatan tidak ada keserupaan dengan al-Quran dan agar al-Quran tidak ditingalkan karena mereka menekuni selainnya. Karena salah satu bentuk cara penyampaian hadis Nabi saw adalah dengan surat menyurat[2] yaitu pada saat Nabi saw mengirimkan surat kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat unta dan kambing. Dan pernah juga dengan tegas Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk menulis hadis.
Pada dasarnya tidak ada pertentangan antara pelarangan dan pembolehan untuk menuliskan hadis, yang dimaksudkan dengan pelarangan ialah pembukuan resmi seperti halnya al-Qur’an dan pembolehan itu diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunnah untuk diri sendiri. Pelarangan tersebut diberlakukan secara umum sedangkan kebolehan untuk menulis hadis diberlakukan untuk orang-orang tertentu. Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr dari Rasulullah saw yang pada saat itu sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan Abdullah itu, mereka berkata kepada Abdullah, “Anda selalu menulis apa yang anda dengar dari Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syari’at umum.[3] Mendengar hal itu Abdullah bertanya kepada Nabi, apakah boleh menulis hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi, Nabi menjawab:
اُكْتُبْ عَنِّي، فَوَلَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، مَاخَرَجَ مِنْ فَمِيْ إِلاَّ حَقٌّ.
Artinya:
“Tulislah apa yang anda dengar daripadaku, demi Tuhan yang jiwaku ditangan-Nya, tidak ke luar dari mulutku, selain kebenaran.”[4]
 Walaupun demikian, penulisan hadis tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, Rasulullah saw membolehkan menulis hadis bagi orang yang dipercaya dan mengawasi dalam penulisan hadis serta dikhususkan bagi beberapa orang sahabat, seperti Abdullah bin Amr, karena beliau dapat membaca kitab-kitab terdahulu dan dapat menulis dengan bahasa yang bagus seperti bahasa arab.
B.     Shahifah Yang Terkenal, Para penulis dan Sejarah
Pada zaman Nabi saw, ternyata tidak sedikit di antara shabat, yang secara pribadi telah berusaha mencatat hadis-hadis Nabi saw. shahifah yang berisi catatan hadis-hadis Nabi saw, dibuat dipelepah-pelepah kurma, kulit-kulit kayu dan tulang-tulang hewan.
Menurut penelitian Dr. Muhammad Musthafa Al-A’zamy, bahwa para sahabat yang memilki shahifah/catatan hadis ada sekitar 50 orang. Ataupun jumlah hadis yang dicatat dalam shahifah-shahifah itu menurut Munadzir Ahsan Kailany, ada lebih dari 10.000 hadis.
Di antara para sahabat yang telah menulis hadis-hadis Nabi saw dalam shahifah-shahifah ialah:
1.      Shahifah al-Shadiqah  karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
Seorang sahabat yang-menurut penilaian Abu Hurairah- paling banyak mengetahui hadis, dan sahabat yang mendapat izin langsung untuk menulis apa saja yang didengar dari Rasul, baik disaat Rasul Ridha maupun marah. Rasulullah juga memberikan kelonggaran bagi ‘Abdullah bin ‘Amr karena dia merupakan penulis yang baik.[5] Dan tampaknya beliaulah yang pertama kali menuliskan hadis di hadapan Rasul. Karenanya beliau bangga sekali dengan kitabnya tersebut, sampai beliau pernah mengatakan,”Tidak ada yang saya senangi di dunia ini kecuali Al-Shadiqah dan Al-Wahth, As-Shadiqah adalah Shahifah yang berisi hadis-hadis yang saya tulis dari Nabi saw, sedangkan al-Wahth adalah tanah yang diwakafkan oleh ayahku Amr Ibn ‘Ash”.[6] Naskhah ini berisikan hadis sebanyak 1000 hadis, dan dihafal serta di pelihara olah keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama ‘Amr Ibn Syu’aib meriwayatkan hadis-hadis tersebut sebanyak 500 hadis. 
Diantara hadits yang ditulis dalam sahahifah ini antara lain:
و حَدَّثَنَاه حَامِدُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ :قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَحَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ نَعَمْ مَا بَيْنَ كَذَا إِلَى كَذَا فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا قَالَ ثُمَّ قَالَ لِي هَذِهِ شَدِيدَةٌ مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا قَالَ فَقَالَ ابْنُ أَنَسٍ أَوْ آوَى مُحْدِثًا.
Artinya:
“Dan Telah menceritakannya kepada kami Hamid bin Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Ashim ia berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah menjadikan Madinah sebagai tanah haram?" Ia menjawab, "Ya. Yaitu dalam batas ini sampai ke sana. Siapa yang berbuat dosa di dalamnya -Anas berbicara dengan sungguh-sungguh- maka dia akan mendapat laknat kutuk Allah, kutuk Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan pembayaran dendanya. Kata Ibn Anas dengan tambahan redaksi "Atau melestarikan dosa dan maksiat."[7]
2.      Sahifah Hammām Ibn Munabbah
Sahifah Hammām Ibn Munabbah yang sampai ke tangan ini bersumber dari riwayat al-asan Ibn Abī al-Rabī’ dari ‘Abd al-Razzāq Ibn Hammām, dari Mu’ammar Ibn Rāsyid, dari Hammām Ibn Munabbah berkata bahwa sahifah ini berasal dari sahabat Nabi Muhammad saw. Abu Hurairah r.a. dan langsung bersumber dari Nabi Muhammad saw.[8]
3.      Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
حَدَّثَنَا ابْنُ بَهَانَ، ثَنَا عَبْدَانُ الْوَكِيلُ، ثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، حَدَّثَنِي عَاصِمٌ قَالَ: " عَرَضْنَا عَلَى عَامِرٍ صَحِيفَةَ كُتِبَتْ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ: قَدْ سَمِعْتُ هَذَا كُلَّهُ مِنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ "[9]
Kami Telah diceritakan oleh Ibn Bahān, menceritakan Ibn Abī Zāidah, menceritakan ‘Āim bahwa kami mendatangi Imam ‘Āmir sebuah sahifah yang ditulis oleh Jābir Ibn ‘Abdillah r.a. sahabat Nabi Muhammad saw. Maka Imam ‘Āmir berkata bahwa sahifah ini semuanya benar berasal dari Jābir Ibn ‘Abdillāh
Zain al-Dīn al-Bagdādī menambahkan bahwa Syu’bah dan Ibn ‘Uyainah mendapatkan riwayat dari sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh.[10] Sahifah ini memiliki banyak lembaran halaman dan sangat terkenal[11] di kalangan pelajar apa lagi ahli hadis
4.      Sahifah Ibn ‘Abbā
حدَّثَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، ثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، ثَنَا مِنْدَلٌ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: «كُنْتُ أَكْتُبُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا امْتَلَأَتِ الصَّحِيفَةُ أَخَذْتُ نَعْلِي فَكَتَبْتُ فِيهَا حَتَّى تَمْتَلِئَ»[12]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abū Khalīfah, telah menceritakan kepada kami Mindal, dari Ja’far Ibn Abī al-Mugīrah, dari Sa’īd Ibn Jubair berkata bahwa dulu, saya menulis (hadis) di sisi Ibn ‘Abbās. Maka jika sahifah Ibn ‘Abbās menulis hadis di sahifahnya, maka saya ambil sendalku dan saya gunakan untuk menulis hadis Nabi Muhammad saw.
5.      Sahifah al-ādiqah
Sahifah al-ādiqah merupakan sahifah yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad saw. ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a.[13]
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: «الصَّادِقَةُ صَحِيفَةٌ كَتَبْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ»[14]
“Telah mengkabari kami ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdillah al-Muta’addil, telah mengkabari kami Ismā’il Ibn Muammad al-affār, telah menceritakan kami ‘bbās Ibn Muammad Ibn ātim, telah menceritakan kami Muammad Ibn al-alt, telah menceritakan kami Syarīk, dari Lai, dari āwus, dari ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a. berkata bahwa al-ādiqah merupakah sahifah yang saya sendiri yang menulisnya dan menukilkannya dari Nabi Muhammad saw.”
          Sahifah al-ādiqah merupakan sahifah yang ditulis langsung ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a. dihadapan Nabi Muhammad saw. Dan ketika itu Nabi Muhammad saw. Sendiri yang mengizinkannya untuk ditulis.[15]
C.     Hubungan antara Shahifah dan Kitab Hadis
Masa penulisan dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada awal abad kedua hijriah. Pada periode ini hadis-hadis Nabi saw mulai ditulis dan dikumpulkan secara resmi. Umar ibn ‘Abd al-Azi>z salah seorang khalifah dari dinasti Umayyah yang mulai memerintah di penghujung abad pertama Hijriyah, merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan hadis Nabi saw secara resmi, yang selama ini berserakan di dalam catatan dan hafalan para sahabat dan tabi’in. Hal tersebut dirasakannya sangat mendesak karena pada masa itu wilayah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke daerah-daerah di luar Jazirah Arabia, di samping para sahabat sendiri, yang hafalan dan catatan pribadi mereka mengenai hadis merupakan sumber rujukan bagi ahli hadis ketika itu, sebagian besar telah meninggal dunia karena faktor usia dan akibat banyaknya terjadi peperangan.[16]
Jadi menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan berdasarkan tema.
Adapun kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-7 H  yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para ulama adalah:
1)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-2 H:
a)      Kitab al-Muwaththa’, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
b)      Musnad al-Syafi’I, karya Imam al-Syafi’I, yaitu berupa kumpulan hadis yang terdapat dalam kitab al-Umm.
c)      Mukhtaliful Hadis, karya Imam al-syafi’I yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara memelihara hadis sebagai hujjah dan cara-cara mengompromikan hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
d)      Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi saw dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi.[17]
2)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-3 H:
a)      Kitab shahih, kitab ini hanya menghimpun hadis-hadis shahih, sedangkan yang tidak shahih tak dimasukkan kedalamnya. Bentuk penyusunannya adalah bentuk musannaf, yaitu penyajian berdasarkan bab-bab masalah tertentu sebagaimana metode kitab-kitab fiqih.[18]
b)      Kitab sunan adalah empat sunan, yaitu Sunan Abu> Da>wu>d, Sunan al-Tirmidzi,Sunan al-Nasa’I dan Sunan Ibnu Majah. Kitab-kitab hadis nomor dua ini yang mendekati Al-Muwaththa’ dan Shahi>hayn sekalipun sederajat dengannya. Penulisnya orang-orang yang terkenal kredibilitas, keadilan, ke-dhabith-an dan keluasan keilmuannya dalam bidang hadis dan ilmu hadis.[19]
c)      Kitab musnad. Di dalam kitab ini hadis-hadis disusun berdasarkan urutan perawi pertama. Urutan nama perawi pertama ada yang berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan Bani Hisyam dari yang lainnya, ada yang berdasarkan nama sahabat menurut urutan waktu yang memeluk agama Islam dan ada yang menurut urutan lainnya.
3)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-7 H:
a)      Kitab Athraf. Di dalam kitab ini penyususnannya hanya menyebutkan sebagian dari matan hadis tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan hadis tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadis yang dikutip matan-nya ataupun dari kitab-kitab lainnya.
b)      Kitab Mustakhraj. Kitab ini memuat matan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya dan selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan hadis tersebut dengan sanad-nya sendiri.
c)      Kitab Mustadrak. Kitab ini menghimpun hadis-hadis yang meiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya.
d)      Kitab Jami’. Kitab ini menghimpun hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu seperti menghimpun hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
1.      Secara etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran  tulisan yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul masih hidup oleh para Sahabat.
2.      Adapun shahifah-shahifah yang terkenal ialah:
a)      Shahifah al-Shadiqah  karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
b)      Sahifah Hammām Ibn Munabbah
c)      Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
d)      Sahifah Ibn ‘Abbā
e)      Sahifah al-ādiqah
3.      Hubungan antara shahifah dan kitab hadis adalah
Jadi menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan berdasarkan tema.




4.       
DAFTAR PUSTAKA
Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, Muslim bin al-H}ajja>j. S}ah}i>h} Muslim. Beirut: Da>r -Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.
Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur. Ulumul Hadis. Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.
Bakr al-Bagdādī, Abū. Taqyīd al-‘Ilm. Beirut: Iyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.
Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y, Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin al-Fad}l bin. Sunan al-Da>rimi>y. Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.
‘Itr, Nuruddin. ‘Ulumul Hadis. Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
al-Khatib, Muh}ammad ‘Ajja>j. Ushul al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis Pokok-Pokok. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.
Maid Khon, Abdul. Ulmul Hadis. Jakarta: Amzah, 2012.
Muammad al-Ramahurmūżī, Abū. Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī. Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H.
al-Quzwainī, Sirāj al-Dīn. Masyīkhah al-Quzwainī. Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H.
Rajab bin H{asan al-Salami>y, Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin. Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h} al-Bukha>ri>. Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.
Sayadi, Wajidi. Ilmu Hadis. Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.
Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.
al-Yamānī, ‘Abd al-Ramān. Al-Anwār al-Kāsyifah. Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H.
Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syar ‘Ilal al-Turmużī. Cet. I;  Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H.




[1]Nuruddin ‘Itr, ‘Ulumul Hadis, (Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.), h. 30.
[2]Wajidi Sayadi, Ilmu Hadis, (Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.), h. 49
[3]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.), h. 36-39.
[4]Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin Rajab bin H{asan al-Salami>y, Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz I (Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.), 165.
[5]Muh}ammad ‘Ajja>j al-Khatib, Ushul al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis Pokok-Pokok, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.), h. 172.  
[6]Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin al-Fad}l bin Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y, Sunan al-Da>rimi>y, Juz I (Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.), h. 127.
[7]Muslim bin al-H}ajja>j Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, S}ah}i>h} Muslim, Juz IV (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.), h. 1366.
[8]Lihat Sirāj al-Dīn al-Quzwainī, Masyīkhah al-Quzwainī (Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H), h. 270.
[9]Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī (Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H), h. 430.
[10]Lihat Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syar ‘Ilal al-Turmużī, jilid 2 (Cet. I;  Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H), h. 852.
[11]Lihat ‘Abd al-Ramān al-Yamānī, Al-Anwār al-Kāsyifah, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H), h. 39. 
[12]Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī, h. 371.
[13]Lihat  Abū Bakr al-Bagdādī, Taqyīd al-‘Ilm (Beirut: Iyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.), h. 84.
[14]Abū Bakr al-Bagdādī, Taqyīd al-‘Ilm, h. 84.
[15]Lihat Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī, h. 366.
[16]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul Hadis, (Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.), h. 62.
[17]Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.), h. 104.
[18]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul Hadis, h. 69.
[19]Abdul Maid Khon, Ulmul Hadis, (zjakarta: Amzah, 2012.), h. 72.UIN
PENGETAHUAN TENTANG SHAHIFAH DAN KITAB HADIS


                                                                                                                   




Tugas Makalah
Membahas Kitab Hadis
Semester VI
Prodi Ilmu Hadis

OLEH

MUNIRAH RAHMAN
NASIHUDDIN
FIRMAN
Dosen Pembimbing:

JURUSAN TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN, FILSAFAT DAN POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2015


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kaum muslimin meyakini bahwa hadis merupakan sumber hukum utama setelah al-Qur’an, keberadaannya merupakan realitas nyata dari ajaran islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Qur’an. Sedangkan al-Hadis hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qur’an itu sendiri.
Secara historis perjalanan al-Qur’an tidak sama dengan perjalanan al-Hadis. jika al-Qur’an sejak awalanya sudah diadakan pencatatan secara resmi oleh pencatat wahyu atas petunjuk dari Nabi, dan tidak ada tenggang waktu antara turunnya wahyu dan penulisannya, maka tidak demikian halnya dengan hadis. jika al-Qur’an secara normative ada garansi dari Allah dan tidak ada keraguan atas otentisitasnya, maka tidak demikian dengan hadis.
Berita tentang perilaku Nabi Muhammad baik berupa sabda, perbuatan maupun sikapnya didapat dari seorang sahabat atau yang lebih kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya  yang disebut tabi’in. berita itu disampaikan lagi dari generasi selanjutnya lagi yaitu tabi’ut tabi’in dan seterusnyahingga sampai kepada pembukuan hadis.
Akan tetapi, sebelum hadis-hadis itu dibukukan dalam kitab hadis, hadis dari Rasulullah dulunya hanya sebuah lembaran- lembaran. Saat zaman Rasulullah dahulu masih banyak yang berbentuk lembaran,  yang ditulis tidak teratur oleh para sahabat.
Seiring dengan  perkembangannya terjadi pengkodifikasian hadis yang dilakukan secara individu masing – masing periwayat hadis. Dan diantara bentuk awal hasil dari kodifikasi tersebut adalah Shahifah. Kemudian shahifah – shahifah tersebut dibukukan ke dalam kitab – kitab hadis, yang hingga sekarang digunakan para ulama untuk menetapkan atau mengambil sebagai hujjah kedua setelah Al Quran. Untuk menjaga keorisinilan sebuah hadis maka para ulama zaman dahulu membukukan hadis sehingga generasi penerusnya tidak kesulitan mencari dan menghafal  hadis – hadis.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok masalah yang menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut dalam kajian makalah ini adalah bagaimana syar al-ḥadīṡ tentang larangan menyiksa dan membunuh hewan tanpa hak?
            Untuk terarahnya dan sistematisnya pembahasan makalah ini, maka masalah pokok di atas, dijabarkan dalam bentuk sub masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Shahifah?
2.      Shahifah apa yang terkenal pada masa Nabi saw?
3.      Apa hubungan shahifah dengan kitab hadis?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Shahifah
Secara etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran  tulisan yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul masih hidup oleh para Sahabat. Saat penulisan tersebut, terjadi beberapa masalah yang terkait dengan larangan dalam menuliskan sebuah hadis. Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kamu tulis sesuatu dariku selain al-Quran. Barang siapa telah menulis sesuatu dariku selain al-Quran hendaklah ia menghapusnya”
Hadis yang senada dengan hadis tersebut telah banyak diriwayatkan oleh para sahabat, dan hadis tersebut tidak dapat diragukan lagi keshahihannya. Disinilah terjadinya kontradiksi antara kebolehan menulis hadis dengan tidak diperbolehkan menulis hadis. Beliau tidak mengijinkan menulis hadis karena adanya kekhawatiran berpalingnya umat dari al-Quran, karena merasa cukup dengan apa yang mereka tulis.[1] Rasulullah saw.  juga khawatir akan timbul kerancuan antara sabda, penjelasan dan perilaku beliau dengan al-Quran, apalagi jika semua itu ditulis pada lembaran yang sama.
Riwayat dari Urwah bin Zubair bahwa Umar bin al-Khaththab ingin menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Lalu mereka berunding, meminta Rasulullah saw. untuk membolehkan penulisan hadis. Namun Rasulullah saw. bingung, lalu beliau ber-istikharah selama satu bulan untuk menentukan keputusan dari permintaan para sahabat dalam menulis hadis. Setelah mendapat petunjuk dari Allah swt, beliau berkata: “sesungguhnya saya pernah berkeinginan untuk menuliskan sunah-sunah Rasulullah saw. Akan tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis beberapa kitab dan meninggalkan kitab Allah saw. Demi Allah, saya tidak akan mencampuradukkan kitab Allah dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Akhirnya Rasulullah saw memperbolehkan penulisan hadis, dengan catatan tidak ada keserupaan dengan al-Quran dan agar al-Quran tidak ditingalkan karena mereka menekuni selainnya. Karena salah satu bentuk cara penyampaian hadis Nabi saw adalah dengan surat menyurat[2] yaitu pada saat Nabi saw mengirimkan surat kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat unta dan kambing. Dan pernah juga dengan tegas Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk menulis hadis.
Pada dasarnya tidak ada pertentangan antara pelarangan dan pembolehan untuk menuliskan hadis, yang dimaksudkan dengan pelarangan ialah pembukuan resmi seperti halnya al-Qur’an dan pembolehan itu diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunnah untuk diri sendiri. Pelarangan tersebut diberlakukan secara umum sedangkan kebolehan untuk menulis hadis diberlakukan untuk orang-orang tertentu. Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr dari Rasulullah saw yang pada saat itu sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan Abdullah itu, mereka berkata kepada Abdullah, “Anda selalu menulis apa yang anda dengar dari Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syari’at umum.[3] Mendengar hal itu Abdullah bertanya kepada Nabi, apakah boleh menulis hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi, Nabi menjawab:
اُكْتُبْ عَنِّي، فَوَلَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، مَاخَرَجَ مِنْ فَمِيْ إِلاَّ حَقٌّ.
Artinya:
“Tulislah apa yang anda dengar daripadaku, demi Tuhan yang jiwaku ditangan-Nya, tidak ke luar dari mulutku, selain kebenaran.”[4]
 Walaupun demikian, penulisan hadis tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, Rasulullah saw membolehkan menulis hadis bagi orang yang dipercaya dan mengawasi dalam penulisan hadis serta dikhususkan bagi beberapa orang sahabat, seperti Abdullah bin Amr, karena beliau dapat membaca kitab-kitab terdahulu dan dapat menulis dengan bahasa yang bagus seperti bahasa arab.
B.     Shahifah Yang Terkenal, Para penulis dan Sejarah
Pada zaman Nabi saw, ternyata tidak sedikit di antara shabat, yang secara pribadi telah berusaha mencatat hadis-hadis Nabi saw. shahifah yang berisi catatan hadis-hadis Nabi saw, dibuat dipelepah-pelepah kurma, kulit-kulit kayu dan tulang-tulang hewan.
Menurut penelitian Dr. Muhammad Musthafa Al-A’zamy, bahwa para sahabat yang memilki shahifah/catatan hadis ada sekitar 50 orang. Ataupun jumlah hadis yang dicatat dalam shahifah-shahifah itu menurut Munadzir Ahsan Kailany, ada lebih dari 10.000 hadis.
Di antara para sahabat yang telah menulis hadis-hadis Nabi saw dalam shahifah-shahifah ialah:
1.      Shahifah al-Shadiqah  karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
Seorang sahabat yang-menurut penilaian Abu Hurairah- paling banyak mengetahui hadis, dan sahabat yang mendapat izin langsung untuk menulis apa saja yang didengar dari Rasul, baik disaat Rasul Ridha maupun marah. Rasulullah juga memberikan kelonggaran bagi ‘Abdullah bin ‘Amr karena dia merupakan penulis yang baik.[5] Dan tampaknya beliaulah yang pertama kali menuliskan hadis di hadapan Rasul. Karenanya beliau bangga sekali dengan kitabnya tersebut, sampai beliau pernah mengatakan,”Tidak ada yang saya senangi di dunia ini kecuali Al-Shadiqah dan Al-Wahth, As-Shadiqah adalah Shahifah yang berisi hadis-hadis yang saya tulis dari Nabi saw, sedangkan al-Wahth adalah tanah yang diwakafkan oleh ayahku Amr Ibn ‘Ash”.[6] Naskhah ini berisikan hadis sebanyak 1000 hadis, dan dihafal serta di pelihara olah keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama ‘Amr Ibn Syu’aib meriwayatkan hadis-hadis tersebut sebanyak 500 hadis. 
Diantara hadits yang ditulis dalam sahahifah ini antara lain:
و حَدَّثَنَاه حَامِدُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ :قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَحَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ نَعَمْ مَا بَيْنَ كَذَا إِلَى كَذَا فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا قَالَ ثُمَّ قَالَ لِي هَذِهِ شَدِيدَةٌ مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا قَالَ فَقَالَ ابْنُ أَنَسٍ أَوْ آوَى مُحْدِثًا.
Artinya:
“Dan Telah menceritakannya kepada kami Hamid bin Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Ashim ia berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah menjadikan Madinah sebagai tanah haram?" Ia menjawab, "Ya. Yaitu dalam batas ini sampai ke sana. Siapa yang berbuat dosa di dalamnya -Anas berbicara dengan sungguh-sungguh- maka dia akan mendapat laknat kutuk Allah, kutuk Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan pembayaran dendanya. Kata Ibn Anas dengan tambahan redaksi "Atau melestarikan dosa dan maksiat."[7]
2.      Sahifah Hammām Ibn Munabbah
Sahifah Hammām Ibn Munabbah yang sampai ke tangan ini bersumber dari riwayat al-asan Ibn Abī al-Rabī’ dari ‘Abd al-Razzāq Ibn Hammām, dari Mu’ammar Ibn Rāsyid, dari Hammām Ibn Munabbah berkata bahwa sahifah ini berasal dari sahabat Nabi Muhammad saw. Abu Hurairah r.a. dan langsung bersumber dari Nabi Muhammad saw.[8]
3.      Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
حَدَّثَنَا ابْنُ بَهَانَ، ثَنَا عَبْدَانُ الْوَكِيلُ، ثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، حَدَّثَنِي عَاصِمٌ قَالَ: " عَرَضْنَا عَلَى عَامِرٍ صَحِيفَةَ كُتِبَتْ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ: قَدْ سَمِعْتُ هَذَا كُلَّهُ مِنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ "[9]
Kami Telah diceritakan oleh Ibn Bahān, menceritakan Ibn Abī Zāidah, menceritakan ‘Āim bahwa kami mendatangi Imam ‘Āmir sebuah sahifah yang ditulis oleh Jābir Ibn ‘Abdillah r.a. sahabat Nabi Muhammad saw. Maka Imam ‘Āmir berkata bahwa sahifah ini semuanya benar berasal dari Jābir Ibn ‘Abdillāh
Zain al-Dīn al-Bagdādī menambahkan bahwa Syu’bah dan Ibn ‘Uyainah mendapatkan riwayat dari sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh.[10] Sahifah ini memiliki banyak lembaran halaman dan sangat terkenal[11] di kalangan pelajar apa lagi ahli hadis
4.      Sahifah Ibn ‘Abbā
حدَّثَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، ثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، ثَنَا مِنْدَلٌ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: «كُنْتُ أَكْتُبُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ، فَإِذَا امْتَلَأَتِ الصَّحِيفَةُ أَخَذْتُ نَعْلِي فَكَتَبْتُ فِيهَا حَتَّى تَمْتَلِئَ»[12]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abū Khalīfah, telah menceritakan kepada kami Mindal, dari Ja’far Ibn Abī al-Mugīrah, dari Sa’īd Ibn Jubair berkata bahwa dulu, saya menulis (hadis) di sisi Ibn ‘Abbās. Maka jika sahifah Ibn ‘Abbās menulis hadis di sahifahnya, maka saya ambil sendalku dan saya gunakan untuk menulis hadis Nabi Muhammad saw.
5.      Sahifah al-ādiqah
Sahifah al-ādiqah merupakan sahifah yang bersumber dari sahabat Nabi Muhammad saw. ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a.[13]
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّلْتِ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: «الصَّادِقَةُ صَحِيفَةٌ كَتَبْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ , صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ»[14]
“Telah mengkabari kami ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdillah al-Muta’addil, telah mengkabari kami Ismā’il Ibn Muammad al-affār, telah menceritakan kami ‘bbās Ibn Muammad Ibn ātim, telah menceritakan kami Muammad Ibn al-alt, telah menceritakan kami Syarīk, dari Lai, dari āwus, dari ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a. berkata bahwa al-ādiqah merupakah sahifah yang saya sendiri yang menulisnya dan menukilkannya dari Nabi Muhammad saw.”
          Sahifah al-ādiqah merupakan sahifah yang ditulis langsung ‘Abdullāh Ibn ‘Amr Ibn ‘Ā r.a. dihadapan Nabi Muhammad saw. Dan ketika itu Nabi Muhammad saw. Sendiri yang mengizinkannya untuk ditulis.[15]
C.     Hubungan antara Shahifah dan Kitab Hadis
Masa penulisan dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada awal abad kedua hijriah. Pada periode ini hadis-hadis Nabi saw mulai ditulis dan dikumpulkan secara resmi. Umar ibn ‘Abd al-Azi>z salah seorang khalifah dari dinasti Umayyah yang mulai memerintah di penghujung abad pertama Hijriyah, merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah bagi penghimpunan dan penulisan hadis Nabi saw secara resmi, yang selama ini berserakan di dalam catatan dan hafalan para sahabat dan tabi’in. Hal tersebut dirasakannya sangat mendesak karena pada masa itu wilayah kekuasaan Islam telah meluas sampai ke daerah-daerah di luar Jazirah Arabia, di samping para sahabat sendiri, yang hafalan dan catatan pribadi mereka mengenai hadis merupakan sumber rujukan bagi ahli hadis ketika itu, sebagian besar telah meninggal dunia karena faktor usia dan akibat banyaknya terjadi peperangan.[16]
Jadi menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan berdasarkan tema.
Adapun kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-7 H  yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para ulama adalah:
1)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-2 H:
a)      Kitab al-Muwaththa’, yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
b)      Musnad al-Syafi’I, karya Imam al-Syafi’I, yaitu berupa kumpulan hadis yang terdapat dalam kitab al-Umm.
c)      Mukhtaliful Hadis, karya Imam al-syafi’I yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara memelihara hadis sebagai hujjah dan cara-cara mengompromikan hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
d)      Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi saw dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi.[17]
2)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-3 H:
a)      Kitab shahih, kitab ini hanya menghimpun hadis-hadis shahih, sedangkan yang tidak shahih tak dimasukkan kedalamnya. Bentuk penyusunannya adalah bentuk musannaf, yaitu penyajian berdasarkan bab-bab masalah tertentu sebagaimana metode kitab-kitab fiqih.[18]
b)      Kitab sunan adalah empat sunan, yaitu Sunan Abu> Da>wu>d, Sunan al-Tirmidzi,Sunan al-Nasa’I dan Sunan Ibnu Majah. Kitab-kitab hadis nomor dua ini yang mendekati Al-Muwaththa’ dan Shahi>hayn sekalipun sederajat dengannya. Penulisnya orang-orang yang terkenal kredibilitas, keadilan, ke-dhabith-an dan keluasan keilmuannya dalam bidang hadis dan ilmu hadis.[19]
c)      Kitab musnad. Di dalam kitab ini hadis-hadis disusun berdasarkan urutan perawi pertama. Urutan nama perawi pertama ada yang berdasarkan urutan kabilah, seperti mendahulukan Bani Hisyam dari yang lainnya, ada yang berdasarkan nama sahabat menurut urutan waktu yang memeluk agama Islam dan ada yang menurut urutan lainnya.
3)      Kitab-kitab hadis yang merupakan kodifikasi pada abad ke-7 H:
a)      Kitab Athraf. Di dalam kitab ini penyususnannya hanya menyebutkan sebagian dari matan hadis tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan hadis tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab hadis yang dikutip matan-nya ataupun dari kitab-kitab lainnya.
b)      Kitab Mustakhraj. Kitab ini memuat matan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya dan selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan hadis tersebut dengan sanad-nya sendiri.
c)      Kitab Mustadrak. Kitab ini menghimpun hadis-hadis yang meiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya.
d)      Kitab Jami’. Kitab ini menghimpun hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu seperti menghimpun hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
1.      Secara etimologi, pengertian shahifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lembaran yang bertulis, dokumen dan halaman (buku). Sedangkan secara terminology, shahifah adalah lembaran-lembaran  tulisan yang berisi hadis dan ditulis pada zaman Rasulullah saw. Penulisan tersebut sudah banyak dilakukan ketika Rasul masih hidup oleh para Sahabat.
2.      Adapun shahifah-shahifah yang terkenal ialah:
a)      Shahifah al-Shadiqah  karya Abdullah ibn ‘Amr ibn Ash
b)      Sahifah Hammām Ibn Munabbah
c)      Sahifah Jābir Ibn ‘Abdillāh
d)      Sahifah Ibn ‘Abbā
e)      Sahifah al-ādiqah
3.      Hubungan antara shahifah dan kitab hadis adalah
Jadi menurut hemat penulis keberadaan shahifah yang di tulis pada masa Nabi sangat berpengaruh terhadap munculnya berbagai macam kitab hadis, kemunculan kitab hadis memudahkan para peneliti hadis karena kitab-kitab tersebut telah disusun berdasarkan tema-tema tertentu sedangkan shahifah yang dulu ditulis oleh para sahabat masih dalam bentuk catatan prbadi dan belum dikelompokkan berdasarkan tema.



4.       
DAFTAR PUSTAKA
Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, Muslim bin al-H}ajja>j. S}ah}i>h} Muslim. Beirut: Da>r -Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.
Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur. Ulumul Hadis. Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.
Bakr al-Bagdādī, Abū. Taqyīd al-‘Ilm. Beirut: Iyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.
Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y, Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin al-Fad}l bin. Sunan al-Da>rimi>y. Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.
‘Itr, Nuruddin. ‘Ulumul Hadis. Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
al-Khatib, Muh}ammad ‘Ajja>j. Ushul al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis Pokok-Pokok. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.
Maid Khon, Abdul. Ulmul Hadis. Jakarta: Amzah, 2012.
Muammad al-Ramahurmūżī, Abū. Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī. Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H.
al-Quzwainī, Sirāj al-Dīn. Masyīkhah al-Quzwainī. Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H.
Rajab bin H{asan al-Salami>y, Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin. Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h} al-Bukha>ri>. Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.
Sayadi, Wajidi. Ilmu Hadis. Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.
Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.
al-Yamānī, ‘Abd al-Ramān. Al-Anwār al-Kāsyifah. Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H.
Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syar ‘Ilal al-Turmużī. Cet. I;  Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H.



[1]Nuruddin ‘Itr, ‘Ulumul Hadis, (Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.), h. 30.
[2]Wajidi Sayadi, Ilmu Hadis, (Cet. I; Solo: ZADAHANIVA, 2013.), h. 49
[3]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. IV; Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999.), h. 36-39.
[4]Zainuddin ‘Abd al-Rah}man bin Ah}mad bin Rajab bin H{asan al-Salami>y, Fath al-Ba>ri>y Syarh S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz I (Cet. I; al-Qa>h}irah: Da>r al-Tah}qi>q al-H}aramain, 1417 H.), 165.
[5]Muh}ammad ‘Ajja>j al-Khatib, Ushul al-Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul al-Hadis Pokok-Pokok, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998 M.), h. 172.  
[6]Abu Muh}ammad ‘Abdullah bin ‘Abd al-Rah}man bin al-Fad}l bin Bih}ra>m bin ‘Abd al-S}amad al-Da>rimi>y, Sunan al-Da>rimi>y, Juz I (Cet. I; Arab Saudi: Da>r al-Mugni> linnasyar wa al-Tauzi>’, 1412 H.), h. 127.
[7]Muslim bin al-H}ajja>j Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-naisaburi>, S}ah}i>h} Muslim, Juz IV (Beirut: Da>r al-Ih}ya>’ al-Tira>s| al-‘Arabi>, t.th.), h. 1366.
[8]Lihat Sirāj al-Dīn al-Quzwainī, Masyīkhah al-Quzwainī (Cet. I; t.t.: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1426 H), h. 270.
[9]Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī (Cet. III; Beirut: Dār al-Fikr, 1404 H), h. 430.
[10]Lihat Zain al-Dīn al-Bagdādī, Syar ‘Ilal al-Turmużī, jilid 2 (Cet. I;  Yordania: Maktabah al-Manār, 1407 H), h. 852.
[11]Lihat ‘Abd al-Ramān al-Yamānī, Al-Anwār al-Kāsyifah, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1406 H), h. 39. 
[12]Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī, h. 371.
[13]Lihat  Abū Bakr al-Bagdādī, Taqyīd al-‘Ilm (Beirut: Iyā al-Sunnah al-Nabawiyyah, t.th.), h. 84.
[14]Abū Bakr al-Bagdādī, Taqyīd al-‘Ilm, h. 84.
[15]Lihat Abū Muammad al-Ramahurmūżī, Al-Muaddī al-Fāil baina al-Rāwī wa al-Wāī, h. 366.
[16]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul Hadis, (Cet. I; Bandung: Tafakur, 2011.), h. 62.
[17]Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Cet. I; Bandung: Angkasa Bandung, 1987.), h. 104.
[18]Ahmad Izzan dan Saifuddin Nur, Ulumul Hadis, h. 69.
[19]Abdul Maid Khon, Ulmul Hadis, (zjakarta: Amzah, 2012.), h. 72. 

0 komentar:

Posting Komentar